AFU.id

Defisit Perdagangan dengan Tiongkok dan Australia Membengkak, Gerus Cadangan Devisa Indonesia

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Publik baru saja mendapatkan suguhan berupa narasi impresif mengenai ketahanan eksternal Indonesia berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).Yang mana, negara kita berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan selama enam tahun atau 72 bulan berturut-turut.Dalam Berita Resmi Statistik BPS yang rilis pada Senin (2/6/2026), neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar USD5,64 miliar periode Januari-April 2026.

Defisit Perdagangan dengan Tiongkok dan Australia Membengkak, Gerus Cadangan Devisa Indonesia
Ilustrasi cadangan devisa Indonesia yang tergerus. (Foto: Gemini AI)

Mesin Manufaktur Tiongkok dan Spekulasi Logam Mulia Australia

Berdasarkan struktur impornya, devisa Indonesia terkuras bukan untuk membeli barang konsumsi remah-remah.

Akan tetapi, akibat tingginya ketergantungan pada barang modal dan komoditas global yang harganya sedang menggila.

Impor nonmigas dari Tiongkok mendominasi struktur perdagangan nasional, di mana komoditas Mesin dan Peralatan Mekanis (HS 84) mencatatkan pertumbuhan sebesar 19,27% secara kumulatif (cumulative-to-cumulative/C-to-C).

Di sisi lain, impor nonmigas dari Australia melonjak di luar kewajaran akibat komoditas Logam Mulia dan Perhiasan/Permata (HS 71) yang mencatatkan pertumbuhan fantastis sebesar 314,13%.

Lonjakan volume impor emas dari Australia tersebut semakin parah dengan faktor harga.

Data Indeks Harga Impor (IHM) umum mencatat bahwa golongan barang Logam Mulia (HS 71) mengalami inflasi tahunan (year-on-year/Y-on-Y) tertinggi di pasar internasional, yaitu meroket hingga 80,72%.

Hal tersebut membuat Indonesia terpaksa membayar jauh lebih mahal untuk komoditas yang sama.

Analisis Dampak

Tim Redaksi AFU.ID pun setidaknya merangkum tiga catatan kritis dari fenomena data terbaru BPS tersebut, yaitu:

1. Penurunan Kualitas Ekonomi Domestik (Economic Resilience Drop)

Penyusutan surplus yang mendekati angka 50% menandakan, mesin ekspor komoditas andalan Indonesia, seperti hilirisasi nikel atau sawit, mulai kedodoran menghadapi agresivitas impor.

Ketahanan nilai tukar Rupiah ke depan akan menghadapi tantangan berat karena pasokan likuiditas dolar AS dari sektor perdagangan riil terus menipis.

2. Jebakan Ketergantungan Teknologi Teknologi Tinggi

Pertumbuhan impor HS 84 dari Tiongkok sebesar 19,27% membuktikan bahwa Indonesia gagal melakukan substitusi impor untuk mesin-mesin industri hulu dan hilir.

Akibatnya, setiap kali industri manufaktur domestik mencoba menggeliat atau melakukan ekspansi, devisa negara akan otomatis mengalir keluar ke pabrik-pabrik di Tiongkok.

3. Pemborosan Devisa pada Komoditas Nonproduktif

Melesatnya nilai impor emas dari Australia hingga 314,13% di tengah naiknya harga global 80,72% merefleksikan adanya pelarian modal (capital flight) ke aset aman (safe haven).

Alih-alih devisa terpakai untuk mengimpor bahan baku produktif yang bisa menciptakan lapangan kerja lokal, aliran modal Indonesia justru terjebak dalam instrumen spekulasi komoditas emas yang harganya sedang berada di puncak siklus global. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi