JAKARTA, AFU.ID — Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) berupaya memaksimalkan potensi yang melimpah ruah pada subsektor akuakultur.
Kementerian yang dipimpin oleh Sakti Wahyu Trenggono ini menjadikan budidaya ikan darat tematik sebagai salah satu solusi nyata.
Mereka menargetkan pembangunan 40 ribu titik pembiakan yang tersebar di 500 kabupaten/kota seluruh tanah air.
Rencana tersebut juga dalam rangka penguatan ketahanan pangan dan memacu ekonomi nasional yang bertumbuh hingga 8% pada tahun 2029 mendatang.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal (Plt Sekjen) KKP RI, Andy Artha Donny Oktopura, menyampaikan bahwa pihaknya tak hanya ingin meningkatkan produksi.
Akan tetapi, juga berupaya membentuk ekosistem industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk sektor pakan dan pembenihan.
Andy Artha Donny Oktopura menyatakan, pendekatan tematik mempunyai sifat berkelanjutan alias jangka panjang.
Hal tersebut karena memungkinkan pengembangan kawasan yang menyesuaikan dengan karakteristik wilayah dan daya dukung lingkungan.
“Dalam konsep pengembangan budidaya tematik ini, kita tidak hanya berbicara peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana memperbaiki sistem produksi dari hulu ke hilir,” ungkapnya pada Rabu, (29/4/2026).
KKP RI juga menjadikan budidaya ikan darat tematik sebagai pendukung program Makan Bergizi Nasional (MBG).
Yang mana nantinya, akan terintegrasikan dengan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan pelibatan pelaku usaha.
Harapannya, konsep tersebut mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru di sektor kelautan dan perikanan tanah air.
Penguatan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan, baik untuk pasar domestik maupun ekspor turut mengalami penguatan.
Andy Artha Donny Oktopura menjelaskan, langkah tersebut berjalan dengan harmonisasi standar berdasarkan ketentuan internasional dan penguatan sistem pengawasan di lapangan.
Potensi Besar Subsektor Akuakultur
Andy Artha Donny Oktopura menyebut, kebutuhan pangan yang terus meningkat menuntut transformasi kebijakan hingga optimalisasi sumber daya kelautan dan perikanan.
Oleh karena itu, KKP RI mengusung peta jalan ekonomi biru yang terimplementasikan ke dalam beberapa arah kebijakan utama.
Salah satunya adalah pengembangan budidaya perikanan berkelanjutan yang menjadi fokus utama dalam memperkuat produksi pangan nasional.
KKP RI mencatat, Indonesia mempunyai potensi budidaya perikanan mencapai sekitar 17,9 juta hektare.
Hanya saja, tingkat pemanfaatannya hingga kini masih di bawah 10%.
Andy Artha Donny Oktopura menegaskan, kondisi tersebut menjadi peluang besar untuk meningkatkan produksi melalui subsektor akuakultur.
“Ini menjadi tantangan kita ke depan untuk bagaimana kita bisa mengoptimalkan potensi sumber daya yang kita miliki,” tuturnya.
Sebagai informasi, kinerja ekspor perikanan Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2025 kemarin.
Nilai ekspornya mencapai USD6,2 miliar dengan pertumbuhan tahunan sekitar 5,2%.
Untuk menjaga kualitas tersebut, KKP RI membangun sistem jaminan mutu terintegrasi dari hulu ke hilir.
Sistem tersebut mencakup sertifikasi produksi, pengolahan, distribusi, dan lain sebagainya.
Selain itu, pengawasan wilayah laut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk perikanan nasional.
KKP RI mendorong pengendalian aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, termasuk penanganan sampah plastik karena mengancam kualitas ikan dan keamanan pangan. (ADR)