AFU.id

Bukan PKI Dalang G30S, Ini 5 Versi Pelaku Peristiwa 1965, Ada Soeharto dan CIA

Bagikan:

Penulis: Raihan Immaduddin

Ringkasan Berita

Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 di Indonesia menyimpan beragam versi mengenai pihak yang terlibat, dengan narasi resmi yang menempatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang utama, namun kajian sejarah menunjukkan lima versi berbeda yang melibatkan konflik internal Angkatan Darat, keterlibatan Presiden Soekarno, Soeharto, serta kepentingan CIA. Penelitian pasca-Reformasi lebih terbuka terhadap alternatif narasi, menegaskan bahwa G30S tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari satu pelaku tunggal, melainkan merupakan pertemuan berbagai kepentingan politik yang kompleks.

Bukan PKI Dalang G30S, Ini 5 Versi Pelaku Peristiwa 1965, Ada Soeharto dan CIA
Brigjen Soepardjo, Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat yang disebut punya peran penting dalam peristiwa Gerakan 30 September. (Dok. Istimewa)

Versi keempat menyoroti posisi Soeharto sebelum dan sesudah G30S sebagai dasar munculnya teori mengenai keterlibatannya. Kolonel Abdul Latief menyatakan telah memberi tahu Soeharto mengenai rencana gerakan pada 28 September 1965 dan kembali menyampaikan informasi tersebut beberapa jam sebelum operasi berlangsung. Kesaksian itu menjadi salah satu pijakan bagi teori yang kemudian dikenal sebagai analisis “kudeta merangkak”.

Analisis tersebut tidak hanya melihat peristiwa pada malam 30 September, tetapi juga rangkaian perubahan politik hingga Maret 1966. Soebandrio, dalam Kesaksianku tentang G30S, menggambarkan proses tersebut sebagai beberapa tahap yang mencakup tersingkirnya sejumlah jenderal, pembubaran PKI, penangkapan menteri yang loyal kepada Soekarno, hingga peralihan kekuasaan kepada Soeharto. 

CIA Disebut Punya Kepentingan

Versi kelima menghubungkan G30S dengan kepentingan Amerika Serikat pada masa Perang Dingin. Akademisi asal Amerika Serikat (AS), Peter Dale Scot, menulis tentang hubungan CIA dengan sejumlah perwira Angkatan Darat serta kepentingan AS untuk mencegah Indonesia semakin dekat dengan komunisme. Teori tersebut juga menyebut adanya hubungan antara kepentingan politik Amerika Serikat dan perkembangan kekuatan anti PKI di Indonesia.

Dalam bukunya, John Roosa mencatat adanya bantuan perangkat komunikasi kepada Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), sedangkan sumber lain membahas dugaan dukungan dana serta pemberian informasi mengenai tokoh-tokoh PKI. Rangkaian informasi itu menjadi dasar bagi teori yang menempatkan CIA sebagai salah satu unsur asing yang disebut memiliki kepentingan dalam pergolakan politik Indonesia 1965.

Tidak Ada Dalang Tunggal

Di luar lima versi tersebut, terdapat pandangan bahwa G30S tidak dapat dijelaskan melalui satu pihak sebagai pelaku tunggal. Dalam pidato Nawaksara, Soekarno menyebut tiga unsur yang menurutnya berkaitan dengan peristiwa tersebut, yakni pimpinan PKI yang “keblinger”, subversi Neokolonialisme-Kolonialisme-Imperialisme (Nekolim), serta oknum yang tidak bertanggung jawab. Pandangan itu menggambarkan G30S sebagai pertemuan beberapa kepentingan, bukan hasil satu kekuatan saja. (RAI)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi