JAKARTA, AFU.ID — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan pemerintah pada Februari 2025 telah menjangkau puluhan juta penduduk Indonesia. Program ini ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit sejak dini sekaligus mendorong masyarakat memeriksakan kondisi kesehatan sebelum muncul gejala atau berkembang menjadi penyakit serius. Data Kementerian Kesehatan yang tercantum dalam bahan program menunjukkan, CKG melayani sekitar 70 juta hingga 70,8 juta peserta sepanjang 2025. Jumlah tersebut terus bertambah pada 2026.
Hingga awal Oktober 2026, lebih dari 105 juta penduduk disebut telah menerima layanan CKG, sedangkan data September mencatat sekitar 99,1 juta peserta. Capaian tersebut menunjukkan besarnya jangkauan pemeriksaan kesehatan preventif yang disediakan pemerintah. Rata-rata layanan disebut mencapai sekitar 510.000 peserta per hari, dengan jumlah tertinggi mendekati 740.000 peserta dalam satu hari.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, CKG dirancang untuk mengubah kebiasaan masyarakat agar tidak hanya mencari pengobatan ketika sudah sakit. “Cek kesehatan gratis ingin menjaga agar masyarakat tetap sehat. Jangan hanya mengobati pada saat sakit. Kalau bisa jangan sampai sakit,” ujar Budi dalam pernyataan yang dikutip dalam bahan program.
Presiden Prabowo Subianto juga menekankan pentingnya pemeriksaan sejak dini. “Negara harus menjaga kesehatan rakyat sebelum mereka sakit berat,” demikian pernyataan yang dicantumkan dalam bahan tersebut. Program CKG dilaksanakan melalui lebih dari 10.000 puskesmas di 38 provinsi. Pemeriksaan diberikan kepada masyarakat umum dan anak sekolah dengan jenis layanan yang disesuaikan berdasarkan kelompok usia dan kebutuhan kesehatan.
Pemeriksaan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, tekanan darah, kadar gula darah, serta kolesterol. Skrining tertentu juga mencakup deteksi dini kanker payudara, kanker serviks, dan kanker paru. Sementara itu, bayi dan lansia mendapatkan pemeriksaan sesuai kebutuhan kelompok usianya.
Hasil pemeriksaan diintegrasikan dengan sistem kesehatan digital SATUSEHAT untuk mendukung pencatatan dan tindak lanjut. Dengan mekanisme tersebut, temuan yang memerlukan perhatian medis diharapkan dapat ditangani melalui puskesmas atau dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan sesuai indikasi. Sejumlah faktor risiko yang menjadi perhatian dalam pemeriksaan antara lain hipertensi, kadar gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Kondisi tersebut dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, tetapi berisiko memicu komplikasi apabila tidak terdeteksi dan ditangani.
Karena itu, pemeriksaan tidak berhenti pada pencatatan hasil. Peserta yang menunjukkan faktor risiko atau dugaan gangguan kesehatan perlu memperoleh penjelasan mengenai hasil pemeriksaan, rekomendasi medis, serta tindak lanjut sesuai kondisi masing-masing. Meski cakupan program terus bertambah, pemerataan partisipasi dan tindak lanjut hasil pemeriksaan masih menjadi tantangan. Sebagian masyarakat belum memanfaatkan layanan secara optimal, sementara hasil skrining yang menunjukkan risiko kesehatan membutuhkan pemantauan dan penanganan lebih lanjut.
Pemerintah menargetkan sekitar 130 juta penerima manfaat CKG sepanjang 2026. Target tersebut setara dengan sekitar 46 persen populasi Indonesia, sebagaimana tercantum dalam bahan yang diberikan. Besarnya jumlah peserta menjadi salah satu indikator jangkauan program. Namun, keberhasilan CKG juga ditentukan oleh tindak lanjut terhadap temuan pemeriksaan, akses pengobatan, serta kemampuan fasilitas kesehatan memastikan masyarakat yang membutuhkan mendapatkan penanganan. (EER)