JAKARTA, AFU.ID — Kontak tembak antara prajurit TNI gabungan Satgas Habema dengan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) pecah di dalam hutan Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Sabtu (3/10/2026) malam. Baku tembak tersebut menewaskan dua petinggi OPM Kodap IV Sorong Raya pimpinan Manfred Fatem. Di balik penindakan hukum tersebut, temuan barang bukti berupa jimat rajah bertuliskan lafaz mirip "Bismillah" mendadak viral dan menjadi perbincangan riuh warganet di media sosial.
Dua anggota OPM yang tewas teridentifikasi sebagai Arso Aisnak, Komandan Komando Wilayah Pertahanan II, serta Yohanes Ky, Komandan Batalyon Karef Hamit. Yang menarik, saat menyisir lokasi markas usai menguasai keadaan, prajurit TNI menyita berbagai barang bukti, mulai dari satu pucuk senjata api jenis revolver beserta amunisi, puluhan butir amunisi senapan mesin otomatis kaliber 5,56 mm, senjata tajam, alat komunikasi, dokumen internal, hingga dua lembar bendera Bintang Kejora.
Di antara barang-barang yang ditinggalkan, aparat juga menemukan sabuk jimat dan lembaran kertas rajah berisi tulisan doa yang diawali lafaz mirip "Bismillah" yang dipercaya sebagai penolak bala atau pelindung kebal tembak. Penemuan jimat religius ini mendadak ramai dibahas netizen karena dinilai unik serta kontras dengan narasi kelompok separatis.
Sontak, fenomena jimat berlafaz "Bismillah" milik anggota OPM tersebut memicu beragam reaksi keheranan dan komentar bernada sindiran dari warganet di platform X. "Bawa jimat loh ya. Ada mantra khusus buat kebal peluru," tulis akun @hikenseek. "Orang papua pake jimat dengan awalan bismillah..., w curiga yang buat ini dukun Jawa, tapi kayanya anak abal, lagi pula kalau iya pun bacaannya bakalan panjang...tambah ada rajah lagi wkwkwk," timpal akun @DatasemenITAC.
"Dukung isreal tapi pake jimat dengan awalan bismillah ... sesuatu yang sangat apa sekali," sentil akun @greenjosecuervo. "Org papua ad yg muslim terutama si pbd," tanggap akun @en_vapid mencoba memberikan sudut pandang geografis Papua Barat Daya. "Biasanya dr seram," tambah akun @Octavian_13 menanggapi riuhnya perbincangan temuan jimat tersebut.
Terkait operasi itu itu sendiri, Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menjelaskan, sebelum tindakan tegas diambil, pasukan gabungan TNI sempat mengedepankan langkah persuasif. "Pasukan kita terlebih dahulu melakukan upaya persuasif, meminta mereka menyerah dan meletakkan senjata," kata Letjen TNI Lucky Avianto dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026).
Namun, seruan damai petugas diabaikan oleh para pelaku. Pimpinan kelompok, Manfred Fatem, beserta anak buahnya justru memberondong prajurit dengan tembakan balasan. "Manfred Fatem-lah yang pertama kali menghujani pasukan kita dengan peluru tajam, lalu diikuti oleh seluruh anggota TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Jaya," tegas Lucky.
"Kaki tangan Manfred Fatem, yakni Komandan Komando Wilayah Pertahanan II Kodap IV Sorong Raya, Arso Aisnak, dan Komandan Batalyon Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya, Yohanes KY, tewas dalam kontak senjata tersebut. Sementara pimpinan mereka yakni Manfred Fatem, memilih kabur, melarikan diri bersama sisa anggota kelompoknya ke dalam hutan."
Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto menegaskan, seluruh personel kini masih terus mengejar Manfred Fatem beserta sisa anggotanya yang melarikan diri ke dalam hutan. "Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras dan sinergi seluruh prajurit yang bertugas di lapangan. Namun demikian, kami tetap menempatkan nilai kemanusiaan sebagai pedoman utama dalam setiap langkah operasi," ujar Brigjen TNI Riyanto. Pasukan Satgas TNI terus meningkatkan siaga satu dan melanjutkan penyisiran di wilayah hutan Maybrat guna mengantisipasi pergerakan sisa kelompok Manfred Fatem.
Dalam perkembangan berikutnya, Satgas Yonif 9 Marinir yang terlibat kontak tembak dengan kelompok bersenjata OPM Kodap IV/Sorong Raya di kawasan Sungai Frambu, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Jumat (9/10/2026) berhasil menewaskan tiga anggota kelompok bersenjata OPM terkena tembakan dan meninggal dunia. Satu jenazah diduga adalah Manfred Fatem, Danops OPM Kodap IV/Sorong Raya, sedangkan dua lainnya, diduga Anton Fatem dan Yesias Fatem, terbawa arus sungai dan masih dalam pencarian. Satgas mengamankan satu pucuk AK-101, sementara satu pucuk Caracal juga dilaporkan terbawa arus. (MAR)