Gunung Anak Krakatau mengalami lima kali erupsi pada Sabtu dini hari, 17 Oktober 2026, dengan abu vulkanik terdeteksi bergerak ke arah barat yang mencakup sebagian perairan Selat Sunda, khususnya di wilayah Pandeglang, Banten, dan selatan Lampung. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran abu vulkanik mencapai ketinggian 4.000 kaki, namun pada pemantauan selanjutnya, abu tersebut tidak lagi terdeteksi. Aktivitas erupsi berlangsung antara pukul 01.31 WIB hingga 02.15 WIB, dengan amplitudo maksimum pada erupsi yang bervariasi antara 40 hingga 55 milimeter.
Arsip foto - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Rabu (23/9/2026). ANTARA/Riadi Gunawan
JAKARTA, AFU.ID — Gunung Anak Krakatau mengalami lima kali erupsi pada Sabtu (17/10/2026) dini hari. Abu vulkanik dari aktivitas tersebut sempat terdeteksi bergerak ke arah barat hingga mencakup sebagian perairan Selat Sunda di wilayah Pandeglang, Banten, dan selatan Lampung. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG Lampung, sebaran abu vulkanik terpantau pada pukul 04.00 WIB dengan ketinggian mencapai 4.000 kaki atau sekitar 1,2 kilometer.
Forecaster On Duty BMKG Lampung, Adi Saputra, mengatakan abu vulkanik teridentifikasi bergerak ke arah barat dari kawasan Gunung Anak Krakatau. "Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran abu vulkanik teridentifikasi ke arah barat, mencakup sebagian Selat Sunda bagian barat Pandeglang dan Selat Sunda bagian selatan Lampung," kata Adi, Sabtu (17/10/2026).
Namun, pada pemantauan pukul 07.00 WIB, abu vulkanik tidak lagi terdeteksi melalui citra satelit Himawari-9. Kondisi tersebut tidak serta-merta memastikan seluruh material vulkanik telah mengendap. Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tercatat berlangsung sejak pukul 01.31 WIB hingga 02.15 WIB. Lima erupsi terjadi masing-masing pada pukul 01.31 WIB, 01.35 WIB, 01.40 WIB, 01.47 WIB, dan 02.15 WIB.
Dalam laporan aktivitas gunung api, visual letusan tidak teramati. Erupsi pukul 01.40 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 40 milimeter dengan durasi 22 detik. Sementara itu, erupsi pukul 01.47 WIB memiliki amplitudo maksimum 55 milimeter dengan durasi 29 detik. Erupsi terakhir pada pukul 02.15 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 53 milimeter dengan durasi 28 detik. (FAD)