JAKARTA, AFU.ID — Wilayah Lombok dan sekitarnya diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,0 yang berpusat di wilayah daratan Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Rabu dini hari. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa terletak pada koordinat 8,81 Lintang Selatan serta 116,16 Bujur Timur atau tepatnya berjarak 14 kilometer arah tenggara Lombok Barat. Otoritas pemantau mencatat bahwa peristiwa alam yang terjadi pada pukul 03.15 WIB tersebut memiliki kedalaman sumber sejauh 82 kilometer dan dinyatakan tidak berpotensi memicu bencana tsunami.
Pakar kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan bahwa peristiwa tektonik ini murni dikategorikan sebagai fenomena gempa intraslab. Struktur patahan tersebut terjadi bukan akibat pergerakan sesar aktif dangkal di daratan Lombok, melainkan dipicu oleh deformasi batuan di dalam Lempeng Australia. Lempeng samudra tersebut tercatat sedang bergerak menunjam ke bawah Lempeng Sunda di zona subduksi selatan Nusa Tenggara hingga mengalami tekanan suhu tinggi yang melampaui kekuatan batuan.
Karakteristik kedalaman hiposenter yang relatif dalam membuat rambatan gelombang seismik dari pusat gempa ini dapat menjangkau wilayah geografis yang luas. Skala guncangan dilaporkan mencapai intensitas IV-V MMI di Kota Mataram, III-IV MMI di Lombok Tengah, serta III MMI di wilayah Lombok Timur, Lombok Utara, hingga Sumbawa Barat. Energi patahan lempeng ini bahkan merambat jauh melewati selat hingga dirasakan oleh masyarakat di kawasan Kuta dan Kota Denpasar, Bali, dengan tingkat intensitas getaran II-III MMI.
BMKG menegaskan bahwa produktivitas kemunculan gempa susulan pada tipe patahan intraslab cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan jenis gempa kerak dangkal konvensional. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya tekanan serta suhu ekstrem di dalam tubuh lempeng yang sedang menunjam ke bawah mantel bumi. Meskipun demikian, pemerintah mengimbau warga untuk tetap tenang serta memastikan struktur bangunan rumah tinggal mereka memiliki ketahanan yang baik terhadap potensi risiko bencana tektonik tiga dimensi.(RHU)