JAKARTA, AFU.ID — Elon Musk kembali mendapat peran resmi di pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Miliarder teknologi itu ditunjuk sebagai salah satu pemimpin Project Meridian, proyek Pentagon yang bertugas mengkaji bagaimana perang akan berlangsung di masa depan. Menteri Perang AS Pete Hegseth mengumumkan Project Meridian dalam pidatonya di Pangkalan Korps Marinir AS di Quantico, Virginia, Rabu (30/9/2026). Proyek tersebut akan mengkaji medan perang masa depan serta senjata dan teknologi yang dibutuhkan militer AS.
Musk akan memimpin proyek tersebut bersama Palmer Luckey, pendiri perusahaan teknologi pertahanan Anduril Industries, dan Newt Gingrich, mantan Ketua DPR AS. Hegseth mengatakan Project Meridian akan memanfaatkan para inovator, pemimpin senior, dan ahli teknologi untuk mencari kemampuan yang dibutuhkan AS menghadapi peperangan generasi berikutnya. "Tujuannya adalah secara kreatif melihat masa depan dan mengidentifikasi domain yang harus kita kuasai serta kemampuan yang harus kita miliki," kata Hegseth, seperti dikutip Euronews.
Project Meridian akan bekerja selama 120 hari dan hasil kajiannya akan diserahkan kepada Pentagon. Laporan publik juga akan diterbitkan, disertai bagian rahasia. Kembalinya Musk ke pemerintahan Trump terjadi lebih dari setahun setelah dia meninggalkan Department of Government Efficiency (DOGE). Musk sebelumnya memimpin DOGE dan terlibat dalam pemangkasan besar-besaran di berbagai lembaga pemerintah federal AS sebelum meninggalkan pemerintahan pada Mei 2025.
Musk sebelumnya merupakan salah satu pendukung utama Trump dalam Pemilu AS 2024. Dia menghabiskan lebih dari US$250 juta untuk mendukung Trump dan kandidat Partai Republik lainnya. Hubungan Musk dan Trump sempat memburuk setelah keduanya terlibat perselisihan terbuka terkait kebijakan belanja pemerintah. Namun, keduanya kemudian berdamai dan Musk kembali terlihat dalam sejumlah agenda pemerintahan Trump.
Pada Selasa (29/9), Musk bahkan duduk di samping Trump dalam jamuan makan bersama para eksekutif perusahaan kecerdasan buatan (AI). Pekan sebelumnya, dia juga menghadiri jamuan kenegaraan Trump untuk Presiden China Xi Jinping. Musk juga bukan sosok baru bagi Pentagon. Perusahaannya, SpaceX, menjadi kontraktor penting pemerintah AS untuk peluncuran dan jaringan satelit. SpaceX juga terlibat dalam proyek pertahanan rudal Golden Dome yang direncanakan pemerintahan Trump.
Perusahaan AI milik Musk, xAI, juga telah mendapatkan kesepakatan yang memungkinkan militer AS menggunakan chatbot Grok pada sistem yang diklasifikasikan. Sementara itu, perusahaan Anduril milik Palmer Luckey juga merupakan kontraktor pertahanan AS yang mengembangkan berbagai teknologi militer, termasuk sistem otonom dan drone.
Penunjukan Musk dalam Project Meridian menempatkannya kembali dalam peran resmi yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah AS, meski dengan lingkup berbeda dibandingkan ketika dia memimpin DOGE. Pentagon menyebut proyek tersebut bukan sekadar penyusunan strategi baru, melainkan kajian untuk menentukan teknologi dan kemampuan yang perlu dikembangkan menghadapi peperangan di masa mendatang. Hasil akhirnya dijadwalkan selesai dalam 120 hari. (EER)