AFU.id

Produksi Tembus 31.947 Ton, Rumput Laut Gracilaria Sidoarjo Belum Maksimal Hasilkan Nilai Tambah

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Produksi Tembus 31.947 Ton, Rumput Laut Gracilaria Sidoarjo Belum Maksimal Hasilkan Nilai Tambah
Resident Representative UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella memegang hasil panen rumput laut Gracilaria asal Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jatim. (Foto: KKP RI)

Tantangan Hilirisasi Rumput Laut Gracilaria Sidoarjo

Pada sisi hulu, KKP RI memberikan dua unit ekskavator untuk perbaikan tambak, 2 ton bibit Gracilaria unggul, benih bandeng, dan dukungan pembiayaan kepada pembudidaya. Dua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Budi Daya KKP RI di Pulau Jawa, yaitu Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo dan BBPBAP Jepara, juga diarahkan mengembangkan teknologi pembibitan Gracilaria berbasis spora. Teknologi itu sebelumnya telah diterapkan di BPBAP Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Meski begitu, penguatan produksi di tingkat tambak perlu berlanjut hingga pascapanen dan industri pengolahan. Tb Haeru Rahayu menyampaikan, penguatan hulu harus berjalan secara beriringan dengan hilirisasi. Hal itu agar investasi dan industri pengolahan tumbuh serta menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Sementara itu, Sara Ferrer Olivella selaku Resident Representative UNDP Indonesia menilai pengelolaan bibit, proses panen, dan pengolahan menjadi faktor penting untuk meningkatkan nilai yang pembudidaya terima. Keterlibatan sektor swasta, investor, dan industri sangat penting dalam membantu koperasi melakukan diversifikasi produk serta memperluas akses pasar global. Dengan demikian, peningkatan produksi dapat beriringan dengan peningkatan nilai ekonomi di tingkat pembudidaya. “Hilirisasi perlu diperkuat agar rumput laut dapat menghasilkan lebih banyak produk dan nilai tambah di dalam negeri,” tuturnya.

Oleh karenanya, tantangan pengembangan Gracilaria Sidoarjo tak berhenti pada kemampuan menghasilkan lebih banyak rumput laut. Ukuran keberhasilannya juga terletak pada kemampuan menghubungkan pembudidaya dengan bibit berkualitas, produksi yang efisien, pengolahan, investasi, dan pasar. Jika mata rantai itu tersambung, maka potensi produksi 31.947 ton di Jawa Timur mempunyai peluang lebih besar untuk terkonversi menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar bahan baku. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi