JAKARTA, AFU.ID — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan sebanyak 4.850 kecamatan di 443 kabupaten/kota dari 38 provinsi di Indonesia berpotensi mengalami pergerakan tanah kategori menengah hingga tinggi, Kamis (08/10/2026). Otoritas mitigasi nasional menerbitkan peta prakiraan tersebut sebagai bentuk peringatan dini agar pemerintah daerah segera menyiapkan langkah antisipasi penanggulangan bencana alam secara berkala. Berdasarkan rincian klasifikasi teknis, kerawanan tingkat menengah melanda 2.058 kecamatan, kategori menengah-tinggi mencakup 2.751 kecamatan, sedangkan 41 kecamatan lainnya masuk dalam zona kerentanan kategori tinggi.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, hasil tumpang susun (overlay) peta kerentanan menunjukkan terdapat 12 provinsi yang memiliki wilayah dengan potensi longsor kategori tinggi pada periode Oktober ini. Sebaran wilayah bahaya tersebut meliputi Provinsi Aceh, Bengkulu, Sumatra Utara, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, NTT, Papua Barat Daya, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Selain ancaman longsor, institusinya mendeteksi adanya 405 kecamatan di 18 provinsi yang ditandai berpotensi mengalami banjir bandang atau aliran bahan rombakan dengan sebaran terbanyak berada di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi fenomena iklim global El Niño Sangat Kuat dengan nilai indeks indeks ENSO mencapai +2,20 diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2027. Kondisi atmosfer tersebut mengakibatkan awal musim hujan di 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen daratan Indonesia mengalami kemunduran laju dari kondisi normalnya. Otoritas pemantau cuaca memproyeksikan sebagian besar wilayah baru akan memasuki musim penghujan secara bertahap pada medio November dan Desember, dimulai dari area Sumatra bagian utara.
Meskipun durasi musim hujan diprediksi lebih pendek, BMKG memperingatkan curah hujan bulanan yang jatuh akan tetap berada pada kategori normal atau mendekati rata-rata klimatologisnya. Hal ini memicu risiko akumulasi hujan dengan intensitas sangat tinggi yang jatuh dalam waktu singkat, terutama saat memasuki puncak musim penghujan pada periode Desember 2026 hingga Januari 2027. Penumpukan volume air yang masif pada lereng terjal vulkanik yang belum terkonsolidasi dengan baik terbukti sangat rentan memicu bencana susulan berupa luapan banjir lahar dingin, seperti yang saat ini mengancam sistem aliran sungai di lereng Gunung Talang.
Kombinasi data visual dari Badan Geologi dan prediksi iklim BMKG ini diharapkan menjadi basis mitigasi taktis bagi dinas pekerjaan umum daerah untuk membersihkan jalur konvergensi sungai. Pakar geologi Universitas Gadjah Mada mengingatkan bahwa kondisi kerentanan lereng dipengaruhi oleh faktor pengontrol geomorfologi setempat sebelum curah hujan ekstrem bertindak sebagai pemicu gerakan massa tanah. Langkah pemasangan sistem peringatan dini (early warning system) serta pembangunan struktur penahan dinding sungai (sabo dam) mendesak dilakukan pada titik rawan demi memperkecil angka korban jiwa. (RHU)