JAKARTA, AFU.ID — Gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,1 kembali mengguncang Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (6/10/2026) malam. Gempa tersebut merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa M5,9 yang mengguncang wilayah Kodi pada 4 Oktober. Kepala Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama mengatakan gempa terjadi pukul 19.36 Wita dengan kedalaman 26 kilometer.
Hingga pukul 19.05 Wita, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mencatat 466 aktivitas gempa susulan di wilayah tersebut. “Berdasarkan hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter magnitudo M 4,1 dengan kedalaman 26 kilometer,” kata Arief dalam keterangannya, Selasa malam Episenter gempa berada di koordinat 9,72 derajat Lintang Selatan dan 119,02 derajat Bujur Timur. Lokasinya berada di laut, sekitar 15 kilometer sebelah selatan Kodi, Sumba Barat Daya.
Gempa M4,1 dirasakan di Sumba Barat Daya dengan intensitas III MMI. Pada skala tersebut, guncangan dirasakan nyata oleh beberapa orang dan sensasinya seperti truk melintas. Guncangan juga dirasakan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan intensitas II MMI. “Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang,” ujar Arief.
BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa tergolong dangkal dan dipicu aktivitas sesar aktif. Analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan gempa berupa sesar turun atau normal fault. Gempa terbaru tersebut menjadi bagian dari rangkaian aktivitas seismik setelah gempa M5,9 mengguncang wilayah Kodi pada 4 Oktober 2026 pukul 06.55.52 Wita.
Sejak gempa utama tersebut, aktivitas gempa susulan terus tercatat di wilayah Sumba Barat Daya. Hingga Selasa malam, jumlahnya mencapai 466 kejadian. Dari seluruh aktivitas tersebut, magnitudo terbesar mencapai M4,8. BMKG masih memantau perkembangan aktivitas gempa susulan dan akan menyampaikan informasi terbaru apabila terdapat perubahan signifikan. Masyarakat diminta tetap waspada, terutama dengan menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa. (FAD)