Presiden Prabowo Subianto mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan, namun Anggota Komisi I DPR RI, Yulius Setiarto, meminta pemerintah untuk melakukan "stress test" guna menguji ketahanan produksi pangan menghadapi ancaman El Nino yang dapat menyebabkan defisit air. Yulius menekankan pentingnya mengukur kesiapan sektor pertanian dalam kondisi ekstrem serta mempersiapkan langkah-langkah mitigasi, seperti penyesuaian kalender tanam dan peningkatan efisiensi irigasi, untuk melindungi petani dari potensi gagal panen akibat kekeringan.
Sidang kode etik Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI terhadap anggota Komisi I DPR RI Yulius Setiarto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/12/2024). ANTARA/Melalusa Susthira K
JAKARTA, AFU.ID — Klaim swasembada delapan komoditas pangan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto diminta diuji menghadapi ancaman El Nino 2026. Anggota Komisi I DPR RI Yulius Setiarto meminta pemerintah melakukan stress test untuk mengukur kemampuan produksi pangan bertahan jika defisit air berlangsung selama beberapa bulan.
Permintaan tersebut disampaikan Yulius setelah Prabowo menyebut Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan dalam pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). “Di sektor pertanian, keberhasilan swasembada justru harus diuji melalui stress test, apa yang terjadi terhadap delapan komoditas tersebut apabila defisit air berlangsung beberapa bulan?” kata Yulius dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).
Yulius menilai kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dalam kondisi normal belum cukup untuk menunjukkan ketahanan pangan ketika terjadi tekanan iklim ekstrem. Menurutnya, El Nino dapat mengganggu produksi pangan sekaligus berdampak terhadap ketersediaan air dan sektor lain yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat. “Kesiapan bukan pernyataan. Kesiapan harus dapat diukur, diuji, diawasi, dan dipertanggungjawabkan,” ujar Yulius.
Yulius meminta pemerintah menguji ketahanan delapan komoditas tersebut dengan memperhitungkan kemungkinan kekeringan berkepanjangan. Pemerintah juga diminta menyiapkan langkah untuk menjaga produksi ketika pasokan air mengalami penurunan. Sejumlah langkah yang didorong Yulius antara lain penyesuaian kalender tanam berdasarkan prakiraan iklim, penyediaan benih tahan kekeringan, peningkatan efisiensi irigasi, serta memastikan distribusi air pada fase kritis pertumbuhan tanaman.
Perlindungan terhadap petani juga dinilai perlu disiapkan jika kekeringan menyebabkan gagal panen. Yulius meminta pemerintah memperkuat skema asuransi pertanian dan kompensasi bagi petani yang terdampak. Menurut Yulius, kemampuan menghadapi kekeringan tidak sama di setiap wilayah karena akses petani terhadap air dan kemampuan ekonomi berbeda. Karena itu, ukuran ketahanan pangan tidak cukup hanya melihat jumlah stok yang tersedia.
“Pertanyaan penting bagi pemerintah bukan hanya berapa stok pangan di gudang, melainkan berapa lama cadangan air, irigasi, waduk, layanan kesehatan, listrik, serta daya beli masyarakat mampu bertahan ketika defisit air mencapai puncaknya,” katanya. Yulius juga meminta pemerintah menyiapkan skenario terburuk apabila El Nino berlangsung lebih lama atau lebih kuat dari perkiraan. Ia menilai ancaman kekeringan perlu dihitung sejak awal karena penurunan ketersediaan air dapat terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri, dan pembangkit listrik.
Sebelumnya, Prabowo menyebut Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan pada 2026. Delapan komoditas tersebut yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. “Karena itu, tahun ini kita sudah swasembada delapan komoditas pangan. Kita telah swasembada beras, swasembada jagung, swasembada gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit,” kata Prabowo.
Prabowo mengaitkan capaian tersebut dengan kebijakan pemerintah di sektor pupuk. Ia mengatakan harga pupuk telah diturunkan sebesar 20 persen, sementara ketersediaannya bagi masyarakat meningkat. “Harga pupuk berhasil kita turunkan 20 persen. Hal ini terjadi pertama kali dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, peningkatan ketersediaan pupuk ikut mendorong produksi pangan dan mempercepat pencapaian swasembada. Di sisi lain, Yulius meminta capaian tersebut diuji terhadap kondisi ekstrem yang berpotensi terjadi akibat El Nino. Bagi Yulius, stress test diperlukan untuk melihat apakah produksi delapan komoditas tersebut tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat ketika kekeringan berlangsung panjang. (FAD)