JAKARTA AFU.ID — Pemerintah tidak menyiapkan langkah intervensi khusus untuk menahan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kekuatan fundamental ekonomi nasional masih menjadi faktor utama yang dapat menopang pergerakan pasar saham.
IHSG tercatat telah terkoreksi hingga sekitar 33 persen sejak awal tahun. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), indeks bahkan sempat turun ke level 5.694,91.
Purbaya mengatakan pemerintah lebih fokus menjaga kondisi ekonomi tetap sehat dibanding melakukan intervensi langsung terhadap pasar. Menurutnya, fundamental ekonomi yang kuat akan tercermin dalam valuasi saham perusahaan-perusahaan di bursa.
"Yang penting adalah saya jelaskan bahwa fondasi ekonomi kita bagus dan akan membaik terus," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis.
Ia mencontohkan kinerja sejumlah emiten besar yang masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah tekanan pasar. Kondisi tersebut dinilai menjadi bukti bahwa sektor riil masih bergerak cukup baik.
Salah satu yang disorot adalah kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Bank pelat merah itu disebut mencatat pertumbuhan kredit dan laba lebih dari 13 persen.
"Kalau Anda lihat, kemarin BRI mengumumkan pertumbuhan kreditnya 13 persen lebih dan profitabilitasnya juga meningkat," ujar Purbaya.
Menurut dia, pelemahan IHSG saat ini bukan disebabkan oleh memburuknya kondisi ekonomi nasional. Tekanan yang terjadi lebih banyak dipicu oleh sentimen negatif dan berbagai rumor yang berkembang di pasar.
Salah satu isu yang sempat beredar adalah kabar bahwa lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) akan menurunkan peringkat kredit Indonesia. Rumor tersebut dinilai ikut memengaruhi psikologi investor.
"Saya pikir banyak rumor di dalam negeri. Yang pasti ketika S&P datang ke sini ada rumor S&P akan men-downgrade," kata Purbaya.
Meski demikian, pemerintah tetap optimistis pasar saham domestik memiliki peluang untuk kembali menguat. Keyakinan itu didasarkan pada sejumlah indikator ekonomi yang masih menunjukkan tren positif.
Purbaya menyoroti tingkat inflasi Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam rentang target yang ditetapkan Bank Indonesia.
Selain itu, penerimaan pajak hingga 30 April 2026 mencapai Rp646,3 triliun atau tumbuh 16,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut dianggap mencerminkan aktivitas ekonomi yang masih terjaga.
Di sisi lain, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardan,a menilai koreksi tajam IHSG menunjukkan adanya krisis kepercayaan di kalangan investor. Menurutnya, tekanan terhadap pasar saham tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi berbagai persoalan domestik.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal," ujar Hendra.
Hendra menilai pelemahan rupiah, arus keluar dana asing, serta kekhawatiran terhadap sejumlah kebijakan ekonomi menjadi faktor yang membuat investor lebih berhati-hati menempatkan dananya di pasar Indonesia. (ANT/RAI)