Ilustrasi peserta vaksin 'booster'.
Ilustrasi peserta vaksin ‘booster’. PBXStudio / Shutterstock

Vaksin ‘booster’ makin manjur jika disuntikkan di lengan yang sama

● Menyuntikkan vaksin ‘booster’ di lengan yang sama saat suntikan pertama bisa tingkatkan kemanjuran vaksin.

● Interaksi antara sel B memori dengan makrofag di lengan yang sama bisa memaksimalkan respons imun.

● Minimnya interaksi sel B memori dan makrofag di lengan berbeda bikin respons kekebalan kurang maksimal.


Vaksin booster (dosis penguat) sangat diperlukan untuk memulihkan kekebalan tubuh yang menurun seiring waktu setelah kita menerima dosis pertama.

Saat vaksinasi booster (misalnya vaksin HPV, hepatitis, ataupun COVID-19), apakah kamu tipe orang yang kerap bergonta-ganti lengan ketika disuntik?

Meski kelihatannya tidak terlalu penting, studi terbaru kami menemukan bahwa sistem imun akan bekerja lebih baik jika vaksin booster diberikan di lengan yang sama saat menerima suntikan pertama.

Perjalanan vaksin dalam tubuh

Ketika vaksin disuntikkan pada otot lengan kita, sebagian besar vaksin akan mengalir ke dalam kelenjar limfa terdekat. Kelenjar limfa alias kelenjar getah bening merupakan organ seukuran kacang merah, yang berfungsi menyaring cairan tubuh dari kuman dan materi asing lainnya.

Tubuh kita memiliki sekitar 1.200 kelenjar limfa yang terhubung satu sama lain melalui saluran pembuluh limfa. Sebanyak 20-30 kelenjar limfa berada di dekat otot lengan atas kita.

Kelenjar limfa merupakan markas sistem imun. Sel-sel imun di area ini selalu dalam keadaan siap siaga, termasuk sel B (jenis sel darah putih yang jadi bagian dari sistem kekebalan).

Ketika sel B bertemu dan mengenali komponen vaksin yang menyerupai kuman (antigen), sel B akan berubah menjadi sel plasmablas, yakni sel plasma berumur pendek yang bertugas menghasilkan antibodi secara cepat.

Tidak hanya itu, sel B bersama sel kekebalan lainnya juga membentuk “tempat pelatihan” sementara di dalam kelenjar limfa bernama germinal center (pusat germinal).

Vaksin booster di lengan yang sama bisa memaksimalkan kemanjuran vaksin.
Vaksin booster di lengan yang sama bisa memaksimalkan kemanjuran vaksin. Kmpzzz / Shutterstock

Sel-sel B di germinal center berlomba seperti layaknya para koki yang tengah berkompetisi di dapur MasterChef. Jurinya adalah sistem kekebalan tubuh kita. Mereka harus berkompetisi dengan sel B lainnya dalam menghasilkan antibodi (protein yang mendukung kekebalan tubuh) terbaik.

Hanya sel B dengan antibodi terbaik yang bisa lolos ke tahap selanjutnya. Sementara, sel B yang gagal menyajikan antibodi dengan kualitas lebih baik akan dieliminasi oleh sistem kekebalan.

Proses seleksi ketat ini memastikan tubuh hanya menyimpan sel B dengan antibodi paling efektif untuk melawan infeksi di masa mendatang.

Sel B yang lulus dari germinal center akan berubah menjadi sel plasma, menetap di sumsum tulang, dan bekerja tanpa henti dalam memproduksi antibodi. Antibodi ini menjadi lapisan pertahanan pertama jika kuman yang sama kelak masuk ke dalam tubuh.


Read more: Pandemi COVID-19 dorong percepatan riset genomik dan pengembangan vaksin di Indonesia


Sementara itu, sebagian kecil sel B lulusan germinal center akan menjadi sel B memori. Tugasnya berpatroli ke organ-organ lain di tubuh kita untuk mencari kuman yang berhasil menembus lapisan pertahanan pertama antibodi.

Ketika kita mendapat suntikan vaksin booster, sel B memori adalah sel utama yang akan merespons.

Lokasi lengan pengaruhi kemanjuran booster

Menariknya, penelitian kami yang terbit dalam jurnal Cell, menemukan bahwa sebagian kecil sel B memori bermukim di kelenjar limfa yang sama ketika mereka bertemu vaksin dari suntikan pertama.

Dengan menggunakan mikroskop dwifoton untuk merekam pergerakan sel pada hewan hidup, kami menemukan bahwa sel B memori ini cenderung menetap di area subkapsular, yang diibaratkan sebagai “pekarangan depan” kelenjar limfa.


Read more: Vaksin malaria adalah lompatan besar ke depan: tapi inovasi tidak boleh berhenti di sini


Area subkapsular ini juga ditempati sel imun bernama makrofag, yang bertugas menyergap antigen yang masuk ke dalam tubuh. Uniknya, sel B memori dekat lokasi suntikan pertama lebih banyak berinteraksi dengan sel makrofag.

Sel makrofag—yang bekerja seperti penyedot debu untuk membersihkan kuman dan sisa-sisa sel mati—ternyata juga berperan besar dalam menentukan seberapa cepat dan efektif sel B memori dapat kembali bertindak.

Setelah terpapar vaksin dari suntikan pertama, makrofag akan menjadi lebih siap untuk menangkap dan menyajikan antigen kepada sel B memori setelah vaksin booster berikutnya disuntikkan.

Hasilnya, respons imun lebih optimal dan sel B memori lebih efektif membentuk germinal center untuk menyempurnakan antibodi yang dihasilkan.

Sebaliknya, di dalam kelenjar limfa pada area yang jauh dari lokasi vaksinasi pertama, sel B memori cenderung menetap di area bagian dalam dan jarang berinteraksi dengan sel makrofag. Akibatnya, respons imun yang dihasilkan kurang optimal.

Sel B memori di kelenjar limfa dekat lokasi suntikan pertama banyak berinteraksi dengan sel makrofag yang lebih siap menangkap dan menyajikan antigen kepada sel B memori sehingga menghasilkan respons imun lebih maksimal (panel kiri). Sebaliknya, sel B memori di lengan yang berbeda, lebih banyak ditemukan di area bagian dalam dan jarang berinteraksi dengan sel makrofag (panel kanan).
Sel B memori di kelenjar limfa dekat lokasi suntikan pertama banyak berinteraksi dengan sel makrofag yang lebih siap menangkap dan menyajikan antigen kepada sel B memori sehingga menghasilkan respons imun lebih maksimal (panel kiri). Sebaliknya, sel B memori di lengan yang berbeda, lebih banyak ditemukan di area bagian dalam dan jarang berinteraksi dengan sel makrofag (panel kanan). Authors provided

Tidak hanya pada hewan uji coba, riset kami juga menemukan hasil yang sama pada manusia. Pemberian vaksin booster di lengan yang sama terbukti dapat meningkatkan efektivitas respons imun.

Meskipun riset kami sejauh ini mencakup vaksin berbasis protein dan mRNA, hasil serupa kemungkinan juga berlaku untuk jenis vaksin lain. Namun, tetap diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

Kesimpulan dari temuan ini adalah respons antibodi yang dimediasi oleh sel B memori berpotensi lebih efektif, jika vaksin booster diberikan di lengan yang sama dengan suntikan awal.

Eksperimen dengan menggunakan mikroskop dwifoton untuk merekam pergerakan sel di dalam kelenjar limfa (biru) pada hewan percobaan menunjukkan bahwa  (pu
Eksperimen menggunakan mikroskop dwifoton untuk merekam pergerakan sel di dalam kelenjar limfa (biru) pada hewan percobaan. Sel B memori (merah) cenderung menetap di sekitar area subkapsular dan berinteraksi dengan sel makrofag. Authors provided

Cara sederhana tingkatkan kemanjuran vaksin

Di masa depan, wabah penyakit akibat kemunculan virus baru sangat mungkin terjadi. Namun, berkat kemajuan teknologi seperti genome sequencing dan vaksin mRNA, pengembangan vaksin bisa jauh lebih cepat.

Selain itu, untuk mengoptimalkan respons kekebalan tubuh yang lebih baik pada tingkat individu maupun populasi, kita bisa menggunakan strategi sederhana dengan menyuntikkan vaksin dosis pertama dan booster di lengan yang sama.


Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 235,000 academics and researchers from 5,637 institutions.

Register now