Articles on Kesetaraan gender
Displaying 21 - 40 of 85 articles
‘Unjuk kejantanan’ cenderung berkaitan dengan keyakinan bahwa maskulinitas sedang mengalami krisis atau sedang diserang.
Di tempat kerja di Jepang, perempuan menghadapi diskriminasi dan batasan aturan tengan berperilaku dan berpenampilan. Hanya pergeseran budaya yang dapat mengubahnya.
Pembelanja yang mempraktikkan ‘girl math’ menunjukkan kepiawaian dalam manajemen portofolio.
Cacatan sejarah mengungkapkan bagaimana Muhammadiyah bergerak membentuk masyarakat sosial ekonomi modern yang berdasarkan kepada ajaran Islam.
FIFA menghadapi rintangan dalam menyeimbangkan uang dan aspek moral untuk mengembangkan Piala Dunia Wanita.
Tanggung jawab untuk menciptakan kesetaraan gender di tempat kerja awalnya dibebankan pada perempuan, padahal laki-laki memiliki peran penting untuk mewujudkannya.
Laki-laki merasa lebih menderita jika pasangannya (perempuan) menjadi satu-satunya yang mencari nafkah.
Dalam hal peran diplomasi, negara-negara di Asia masih memiliki kesenjangan gender yang relatif tinggi dan belum mencapai paritas gender.
Pemberlakuan “kewarganegaraan berdasarkan gender” oleh pemerintah Korea Selatan telah memicu perang gender yang mematikan antara laki-laki dan perempuan.
Meskipun terkadang kontroversial, Judith Butler sangat berpengaruh dan karyanya berlandaskan pada komitmen terhadap keadilan dan kesetaraan.
Kosakata transpuan menyimpan makna dan sejarah perjuangan hak-hak kelompok minoritas gender di Indonesia.
Banyaknya anggapan yang mendiskreditkan pentingnya pendidikan bagi perempuan menjadi faktor utama sulitnya perempuan di pedesaan mendapatkan pendidikan yang layak sampai ke tingkat yang lebih tinggi.
Masih banyak benang kusut yang membelenggu upaya pemajuan kesetaraan gender di Korea Selatan.
Kemiskinan memang tidak pandang gender, tapi dampaknya tidak netral gender
Ada ekspektasi tertentu atas peran dan pendekatan diplomat perempuan dalam memimpin kantor perwakilan di negara dengan karakter di atas
Kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki tak kunjung mengalami perbaikan. Tingkat pendidikan yang selama ini dianggap biang keladi ternyata bukan satu-satunya alasan.
Pandangan umum – yang salah dan menyesatkan – soal feminisme adalah saat esensi kesetaraan gender hanya dilihat ketika perempuan bisa melakukan hal-hal yang sama seperti laki-laki.
Seleksi kepala sekolah di Indonesia bersifat ‘netral gender’ dan berbasis kompetensi kandidat. Tapi, dengan demikian, regulasi tersebut justru buta terhadap hambatan khas guru perempuan.
Tubuh perempuan kerap kali menjadi tumpuan berbagai macam pengekangan dan pelarangan dari otoritas negara, agama, budaya, bahkan media.
Saat bekerja dari rumah, wanita berjuang lebih dari pria untuk menemukan waktu untuk upaya berkelanjutan yang diperlukan untuk menghasilkan penelitian yang baik dan dapat diterbitkan.



















