Ilustrasi penyakit yang ditimbulkan dari tambang nikel.

Ilustrasi penyakit yang ditimbulkan dari tambang nikel.
 Nanang Sugi/Shutterstock


Tambang nikel untung besar, tapi warganya sakit‑sakitan

Industri dan pertambangan nikel kini menjadi “bintang utama” di era energi terbarukan. Pemerintah sedang tancap gas membangun smelter (pabrik pengolahan bijih nikel mentah menjadi logam nikel siap pakai), kawasan industri, serta berbagai pabrik turunan nikel, terutama di Sulawesi dan Maluku.

Secara ekonomi, ini tampak menjanjikan: investasi masuk, lapangan kerja terbuka, dan ekspor melonjak. Namun, di balik geliat industrialisasi, ada risiko kesehatan yang menghantui pekerja dan masyarakat sekitar.

Bayangkan, logam nikel yang bisa menggerakkan mobil listrik dan menopang energi terbarukan justru bisa memicu kanker paru-paru melalui udara.

Potret pekerja tambang nikel di Halmahera, Maluku Utara, Indonesia. Hariyanto Teng/Shutterstock

Tubuh manusia sebenarnya butuh nikel dalam jumlah sangat kecil, misalnya untuk mendukung fungsi enzim tertentu. Namun, paparan nikel terlalu tinggi bisa berubah menjadi racun mematikan, terutama yang terhirup dari udara.


Read more: Dampak polusi udara bagi kesehatan mental kita: dari depresi hingga bunuh diri


International Agency for Research on Cancer (IARC) dari WHO menggolongkan senyawa nikel tertentu sebagai zat karsinogenik yang berisiko menyebabkan kanker pada manusia.

Riset menunjukkan bahwa para pekerja tambang dan penduduk di sekitar kawasan industri nikel lebih rentan terkena kanker saluran pernapasan, termasuk kanker paru-paru dan hidung.

Zat ini tak terlihat. Ia menyelinap lewat debu industri, asap peleburan, bahkan air dan tanah yang tercemar. Dalam jangka panjang, paparan nikel bisa mengganggu fungsi paru, kulit, hingga ginjal.

Karena itu, pemerintah dan industri harus transparan dalam mempublikasikan data lingkungan, termasuk hasil pemantauan kualitas udara, air, dan tanah secara rutin. Pemantauan kesehatan masyarakat di wilayah tambang pun menjadi sangat krusial.


Read more: Sisi gelap transisi energi: Bagaimana penambangan nikel berdampak pada hutan dan masyarakat Sulawesi


Kendati nikel menjanjikan masa depan energi bersih, jangan sampai industrialisasi yang terburu-buru justru menciptakan “zona mati” baru. Kita perlu transisi energi yang bukan cuma ramah lingkungan, tapi juga ramah manusia.

Dalam edisi terbaru Ask the Expert, kami berbincang dengan Sani Rachman Soleman, Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Sani menjelaskan bahwa masyarakat yang rentan terpapar nikel bukan cuma pekerja tambang, melainkan juga ibu hamil. Sebab, partikel nikel berukuran sangat kecil dari debu industri yang mengontaminasi udara, tanah, air, dan makanan, bisa masuk ke dalam tubuh, menembus plasenta, dan menyerang janin.

Tonton video lengkapnya di sini:

Tonton video-video seputar sains menarik lainnya hanya di channel YouTube dan TikTok The Conversation Indonesia, jangan lupa ikuti dan berlangganan sekarang juga!

Klik di sini:

YouTube The Conversation Indonesia

TikTok The Conversation Indonesia

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 235,000 academics and researchers from 5,637 institutions.

Register now