Kita sering mengejar keunikan di setiap aspek hidup—mulai dari kultur pop hingga peran kita dalam hubungan.
Kita pun terus mencari keunikan, sesuatu yang kita anggap memiliki makna mendalam.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa pencarian tak berujung merupakan tanda bahwa sebenarnya keunikan itu tidak pernah ada?
Kita mempunyai banyak istilah untuk menggambarkan hal yang “dangkal”. Salah satunya adalah istilah “virtue signalling”, artinya mendukung opini tertentu atau menyuarakan aktivisme tertentu agar terlihat keren, padahal tak paham topiknya.
Ada juga istilah “queerbaiting” yaitu seseorang (biasanya selebritas) yang merasa mereka menjadi bagian dari komunitas queer tanpa mengakuinya secara jelas. Tujuannya untuk menarik audiens LGBTQ+.
Ada juga “Performative male”. Istilah pendatang baru untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap dangkal.
Performative male adalah sosok laki-laki yang tampil dengan ciri khas: buku Milk and Breast di transportasi umum, matcha di tangan, headset kabel dengan lagu dari Clairo atau Lana Del Rey, dan tote bag lengkap dengan Labubu. Profil Bumble atau aplikasi kencan mereka berisi foto dengan anak kecil. Kemungkinan besar mereka suka diajak bicara soal hewan peliharaannya.
Segala hal yang disukai, cara bicara, dan gaya berpakaian mereka menunjukkan kepekaan politik dan kecintaan pada seni yang estetik.
Kehadiran mereka seakan menyajikan maskulinitas versi lebih “lembut” dari sosok maskulin penuh kontroversi seperti Andrew Tate dan Jefri Nichol.
Lalu, mengapa warganet justru cenderung tak suka dengan performative male yang berusaha membentuk ulang maskulinitas?
Performative male hanya sandiwara?
Media seperti Cosmopolitan dan The New York Times menemukan bahwa performative male memang “sekadar” peran, bukan jati diri. Yang lebih parah, sebagian performative male memanipulasi perempuan agar percaya bahwa mereka benar-benar pasangan yang peduli dan peka akan isu perempuan.
Namun, ketika warganet cenderung memandang performative male secara negatif, muncul pertanyaan: sebenarnya apa yang kita cari dari laki-laki? Apakah kita ingin melihat lebih banyak sosok yang mengunggah foto di gym dengan quotes dari influencer sigma male di TikTok?
Tak ada yang salah dari perilaku “maskulin” maupun apa yang dilakukan performative male. Sosok laki-laki heteroseksual yang secara terbuka menunjukkan sisi feminin mereka justru membawa angin segar.
Read more: Kejar keadilan gender di dunia kerja dengan 5 cara ini
Sebagian orang mungkin akan merasa bahwa performative male bukanlah ‘laki-laki sesungguhnya’ dan mereka hanya berakting. Namun, apakah tidak melelahkan mencurigai setiap orang asing yang kita lihat sehari-hari dan menuduh mereka tak menjadi diri sendiri?
Pemikiran dasar kita seharusnya bukanlah memandang laki-laki sebagai manipulator. Cara pandang seperti itu justru menempatkan mereka dalam posisi yang serba salah.

Performative male hanya cari validasi di internet?
Ada juga pendapat lain: performative male hanya mengejar validasi di media sosial karena identitas mereka hanyalah estetika belaka.
Namun, bukankah memang setiap orang di media sosial atau aplikasi kencan memamerkan sisi terbaik mereka sebagai branding?
Kita merasa harus punya identitas yang ori, tapi kita juga pilih-pilih dalam mencitrakan diri di media sosial. Kita memilih dan mengatur segala unggahan kita dengan rapi. Apakah itu masih identitas asli?
Memang masuk akal jika kita komplain soal betapa dangkalnya media sosial. Namun, tak adil rasanya menyalahkan sebagian individu atas kedangkalan media sosial tersebut. Media sosial berperan signifikan terhadap persepsi kita terhadap gender, bukan dari segelintir individu saja.
Tak ada yang murni dalam gender
Bagi siapa pun yang pernah mengambil kelas tentang gender, pasti pernah mendengar kalimat, “gender bersifat performatif (gender is performative.”
Pada intinya, kajian tersebut berargumen bahwa tidak ada yang bisa disebut sebagai “laki-laki tulen”. Yang ada hanyalah berbagai cara menampilkan maskulinitas.
Performative male hanyalah salah satu pertunjukan maskulinitas yang lebih modern. Persoalan akan muncul ketika kita melihat ekspresi ini dengan kecurigaan.
Bayangkan jika kita melihat performative male atau bahkan queerbaiters dan virtue signallers dengan sinis. Mengasumsikan semua laki-laki dengan tote bag adalah penipu hanya akan melanggengkan kecurigaan dan perasaan bahwa kita selalu berhak memasuki ranah pribadi seseorang.
Kecurigaan semacam itu melahirkan narasi berbahaya: mayoritas laki-laki adalah manipulator dan sengaja berakting feminin untuk memperdaya perempuan hanya akan melahirkan lingkungan yang tak sehat.
Narasi ini bisa melukai individu yang sekadar memiliki ciri performative male karena mereka menjadi dicap berpura-pura. Diskursus keunikan diri ujung-ujungnya menjadi ironi: kita mengelu-elukan feminisme, tetapi mengejek kehadiran maskulinitas nonkonvensional.
Read more: Hampir 40% laki-laki bermasalah dengan citra tubuhnya, tetapi mereka sulit mendapatkan dukungan
Kontradiksi ini bukan hal baru. Asa Seresin, seorang peneliti gender menyebutnya sebagai heteropessimism: perasaan tak suka pada heteroseksualitas, tetapi tetap menjalani hubungan heteroseksual.
Alih-alih menuduh setiap laki-laki lembut sebagai manipulator, mungkin lebih sehat jika kita memberi ruang untuk setiap orang mengekspresikan diri.
Kita tak bisa melarang seseorang untuk menjadi performative male, tetapi setidaknya biarkan mereka mengikuti audisi dengan bebas.
Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penerjemahan artikel ini.
