Investasi bodong akan terus menghantui karena mental kasino yang ingin cepat kaya tanpa usaha sangat tinggi di masyarakat
Seorang perempuan memamerkan segepok uang pecahan 100 ribu dan 50 ribu. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz

Mentalitas kaya instan: Kenapa kita gampang tertipu ‘influencer’ finansial abal‑abal?

● Semua orang tentu ingin menjadi kaya dengan cara mudah.

● Tapi sayangnya, pada kenyataannya tidak ada cara kaya instan.

● Dorongan psikologi inilah yang dimanfaatkan para influencer keuangan jahat untuk menipu masyarakat.


Di era digital ini, banyak cara yang menjanjikan kekayaan instan—mulai dari investasi bodong hingga pinjaman daring ilegal—dan menggoda publik. Fenomena ini diperkuat oleh influencer yang memamerkan kemewahan dan menjual ilusi sukses cepat, terutama di kalangan muda.

Financial influencer (finfluencer) awalnya memberi edukasi keuangan seperti pasar saham dan aset kripto. Iming-iming menjadi kaya instan nyatanya sangat menggugah masyarakat luas.

Contohnya adalah kasus di Makassar tahun 2024 lalu yang merugikan puluhan klien hingga Rp95 miliar melalui platform @w*******belisaham.

Baru-baru ini muncul kasus yang diduga melibatkan influencer yang kondang sebagai investor kripto. Seorang korban dijanjikan keuntungan Rp2 miliar hanya dengan modal investasi Rp2 juta.

Semua kasus serupa berujung pada akhir yang sama: kerugian. Celakanya, para korban mayoritasnya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan kerugian masyarakat akibat investasi bodong dan pinjaman daring alias pinjol ilegal mencapai Rp139 triliun sepanjang 2017–2022.

Para korban kemungkinan terjebak pada casino mentality, yakni mental orang berjudi yang ingin cepat kaya, tetapi tidak memikirkan risikonya.

Keinginan untuk cepat kaya ini dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari budaya konsumtif, tekanan sosial di media sosial, gengsi, FOMO (fear of missing out), hingga paparan konten glamor yang terlihat mudah diraih.

Mengapa masyarakat tetap tergoda, meski korban berjatuhan? Ini bukan sekadar masalah ekonomi semata. Ada permasalahan psikologis yang layak jadi perhatian kita semua di baliknya.


Read more: Penipuan umrah Hanania Group: Modus ‘digital marketing’ dan ‘influencer’ nakal bakal terus menjerat masyarakat


Perspektif psikologis: Atensi selektif dan bias konfirmasi

Manusia cenderung hanya memperhatikan informasi yang sesuai dengan keinginan atau keyakinannya—sebuah fenomena yang dikenal sebagai atensi selektif dan bias konfirmasi.

Tak heran kita cenderung hanya melihat yang ingin kita percayai. Ketika seseorang sudah berkeinginan kuat untuk menjadi kaya dengan cepat, mereka fokus pada informasi yang mendukung narasi tersebut. Bias terjadi ketika mereka mengabaikan peringatan atau risiko yang menyertainya.

Eksperimen klasik dari Cherry (1953) mengungkap fenomena atensi selektif dengan cara yang menarik. Partisipan penelitian diminta menggunakan headphone yang memainkan dua narasi berbeda—satu di telinga kiri dan satu di telinga kanan—sambil diminta untuk hanya fokus mendengarkan pada satu sisi tertentu saja.

Hasilnya mengejutkan: meskipun informasi di telinga yang tidak diperhatikan diubah secara drastis (bahkan diganti dengan bahasa asing), mereka tidak menyadarinya. Ini menunjukkan betapa kuatnya penyaringan persepsi manusia yang dapat mengabaikan stimulus yang tidak sesuai dengan fokus kita.

Hal ini memperlihatkan betapa mudahnya kita mengabaikan risiko ketika fokus sepenuhnya pada sebuah narasi yang tampak menjanjikan. Kesimpulannya, dalam pengolahan informasi, manusia cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal yang disukai dan dirasa penting.


Read more: Kasus dugaan ‘fraud’ Dana Syariah Indonesia coreng reputasi keuangan syariah nasional


Eksperimen ini dapat menggambarkan bagaimana masyarakat yang terpaku pada janji kekayaan instan bisa mengabaikan informasi lain—seperti risiko atau bukti penipuan—karena fokus mereka telah tersaring secara selektif.

Begitu seseorang mempercayai narasi ‘cepat kaya’, bias konfirmasi akan menguatkan keyakinannya dan informasi bertentangan diabaikan.

Kecenderungan berpikir cepat dan stereotip

Selain itu, manusia cenderung menggunakan jalan pintas berpikir untuk mengolah informasi—sebuah mekanisme yang disebut sebagai upaya efisiensi kognitif. Namun, dampaknya, kemampuan berpikir kritis sering terabaikan. Hal ini dapat menghasilkan kesimpulan yang tampak logis, tapi sebenarnya keliru.

Misalnya, ketika diberikan deskripsi bahwa Andi adalah sosok yang pemalu, rapi, terstruktur, dan suka membaca buku. Menurut kamu, apakah Andi adalah seorang pustakawan, atau karyawan?

Kebanyakan orang memilih ‘pustakawan’ karena stereotip yang cocok. Padahal, data menunjukkan hasil probabilitas yang jauh lebih kecil.

Menurut Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), jumlah pustakawan di Indonesia hanya sekitar 5 ribu orang per tahun 2024. Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 62,57 juta karyawan.


Read more: Laporan konsumen terhadap pinjol dan perbankan kian marak: Akses keuangan kurang diimbangi literasi masyarakat


Artinya, meskipun deskripsi Andi mirip seorang pustakawan, secara statistik ia jauh lebih mungkin seorang karyawan. Contoh ini memperlihatkan bagaimana kita kerap memilih gambaran yang familiar, bukan faktual.

Dalam konteks keuangan, seseorang bisa langsung meyakini bahwa investasi A menguntungkan hanya karena banyak orang mempromosikannya, tanpa menganalisis secara objektif.

Agar terlepas dari jerat ‘mentalitas kaya instan’

Untuk menghindari jerat ini, pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa pola pikir kita rawan bias. Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk lebih kritis dalam mencerna informasi.

Kedua, biasakan diri untuk mencari sumber informasi yang beragam dan tidak hanya mengikuti yang sesuai dengan keinginan semata.

Kita perlu meluangkan waktu untuk melakukan riset sederhana ataupun memahami karakteristik dari setiap aset investasi yang menjadi pilihannya.

Keputusan investasi diambil berdasarkan data dan analisis yang matang, bukan hanya karena dorongan emosional atau tren pasar sesaat.“ Ini sejalan dengan Peraturan OJK 13 Tahun 2025 yang mengatur konten edukasi keuangan para finfluencer agar lebih bertanggung jawab.

Masyarakat pun berhak untuk mengkritik kredibilitas para finfluencer juga bagian dari proses berpikir kritis. Di tengah derasnya informasi yang kita terima di era digital, sikap kritis bukan hanya pelindung—tetapi kekuatan.

Literasi keuangan dan kemampuan berpikir objektif harus ditanamkan sejak dini. Kaya tidak salah, tapi tergesa-gesa ingin kaya bisa menyesatkan.

Kita tidak perlu membenci kekayaan, tapi penting untuk tidak dibutakan olehnya.


Read more: Tipu daya ‘dark pattern’ platform digital yang siap menjeratmu



Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 235,100 academics and researchers from 5,638 institutions.

Register now