● Negara-negara ASEAN konsisten dan proaktif dalam upaya pengendalian epidemi TB melalui vaksin dan teknologi.
● Selain efektif mencegah penyakit, program vaksin perkuat hubungan antarnegara ASEAN dan negara mitra dialog.
● Untuk berantas TB, ASEAN juga manfaatkan teknologi AI dan pembelajaran mesin.
Perjuangan melawan tuberkulosis (TB) di Asia Tenggara merupakan upaya yang panjang dan berat. Sebab, sekitar 45% kasus TB global berada di kawasan ini.
Negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pun secara konsisten dan proaktif terlibat dalam berbagai upaya pengendalian TB. Ini termasuk rencana aksi regional yang ambisius guna mengakhiri epidemi tuberkulosis yang mematikan.
Rencana tersebut berfokus pada peningkatan obat, penanganan masalah kritis kasus TB laten (terinfeksi Mycobacterium tuberculosis, tetapi tidak menunjukkan gejala), pengembangan teknologi diagnostik, hingga inovasi pencegahan infeksi melalui kandidat vaksin TB M72/AS01E.
Artikel ini akan memaparkan seperti apa peran negara-negara ASEAN (termasuk Indonesia) dalam pemberantasan tuberkulosis di Asia Tenggara lewat pengembangan vaksin TB M72 dan teknologi.
Diplomasi lewat vaksin
Indonesia bersama negara-negara ASEAN lainnya berkomitmen untuk memberantas tuberkulosis pada tahun 2035. Komitmen ini terlihat dari penyelenggaraan Konferensi TB ASEAN dua tahunan, serta peluncuran Platform Pertahanan Infeksi Lewat Udara (AIDP) pada 2024.
AIDP bertujuan untuk memperkuat kemampuan negara anggota ASEAN dalam mengendalikan kasus infeksi penyakit menular lewat udara (seperti COVID-19 dan TB), meningkatkan sistem perawatan kesehatan, serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi di masa mendatang. Platform ini turut didukung oleh USAID dan lembaga mitra, seperti Stop TB dan Stop TB Indonesia (STPI).
Guna mengurangi dampak peningkatan kasus penyakit menular lewat udara, ASEAN menggunakan jalur diplomasi bilateral lewat pengadaan vaksin dari negara mitra dialog (seperti Cina dan Amerika Serikat).
Vaksinasi merupakan tindakan paling efektif untuk mencegah infeksi, serta mengurangi penyebaran dan dampak penyakit. Lebih dari itu, pengadaan vaksin juga bisa memperkuat hubungan antarnegara ASEAN dan negara mitra dialog.

Hal ini sejalan dengan upaya Keamanan dan Kemandirian Vaksin ASEAN (AVSSR) dalam memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan kemandirian vaksin di kawasan Asia Tenggara. Contohnya saat pandemi, ASEAN memastikan pendistribusian vaksin COVID-19 secara merata di tiap wilayah negara anggota dengan menggunakan Dana Respons COVID-19 ASEAN.
Diplomasi ASEAN lewat vaksin terlihat pula dalam upaya pengendalian tuberkulosis di Asia Tenggara, dengan dilibatkannya Indonesia (negara dengan kasus TB terbanyak kedua di dunia) dalam uji klinis fase tiga kandidat vaksin TB M72.
Pengembangan vaksin akan lebih cepat, jika dilakukan di wilayah dengan kasus TB tinggi yang masyarakatnya lebih rentan tertular penyakit seperti Indonesia.
Read more: Uji klinis tahap 3 vaksin TB M72: Apa untungnya buat Indonesia?
Vaksin TB M72 dikembangkan untuk mencegah infeksi pada kelompok mayoritas terinfeksi TB, yaitu remaja dan dewasa.
Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa dua dosis vaksin M72 berpotensi memberikan perlindungan sebesar 54% dalam mencegah perkembangan TB laten menjadi TB paru aktif pada orang berusia 18-50 tahun.
Sebanyak 2.095 peserta berusia remaja dan dewasa dari Indonesia akan berpartisipasi dalam uji klinis tahap tiga vaksin TB M72. Uji klinis direncanakan selesai pada akhir 2028.
Jika vaksin TB M72 terbukti dapat ditoleransi dengan baik dan efektif mencegah infeksi tuberkulosis pada remaja dan dewasa, vaksin ini akan sangat membantu upaya pemberantasan TB regional maupun global.

Pemanfaatan teknologi untuk berantas TB
Untuk meningkatkan kemampuan negara-negara Asia Tenggara dalam mengendalikan TB, ASEAN juga aktif memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (ML). Kedua teknologi ini dimanfaatkan dalam pengembangan alat skrining cepat maupun sistem digital.
Di Indonesia dan Myanmar, alat skrining dengan bantuan komputer (seperti Lunit INSIGHT CXR dan qXR), digunakan untuk menganalisis rontgen dada guna mempercepat proses diagnosis TB dan mendeteksi kelainan paru secara lebih akurat—bahkan tanpa pembacaan dari manusia.
Read more: Bagaimana program pemeriksaan kesehatan gratis dapat percepat pengentasan TB di Indonesia?
Sementara itu, Filipina memperkenalkan deteksi sinar-X berbantuan AI. Teknologi untuk mempercepat diagnosis TB di kelompok rentan ini merupakan hasil kerja sama antara Departemen Kesehatan Filipina (DOH) dan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA).
Adapun Vietnam menggunakan sistem berbasis web bernama VITIMES untuk pengawasan TB. Mereka juga tengah menjajaki pengiriman pesan singkat (SMS) untuk meningkatkan kepatuhan berobat pasien TB.
Menanti masa depan bebas TB
Dedikasi dan keterlibatan proaktif negara-negara Asia Tenggara dalam pengembangan vaksin dan teknologi untuk memberantas tuberkulosis, sangatlah penting bagi masa depan kawasan ini maupun dunia.
Vaksin M72 berpotensi mencegah dan mengurangi kasus infeksi TB, sementara teknologi skrining dan sistem digital bisa membantu berbagai aspek pengendalian tuberkulosis.
Lewat semangat kolaborasi antara ASEAN dan negara mitra dialog, ada secercah harapan bahwa kita tidak sendirian dan bisa mewujudkan dunia yang bebas dari tuberkulosis bersama-sama.
