Ilustrasi kebangkrutan sebuah perusahaan yang jadi kondisi syarat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Anutr Yossundara/ Shutterstock.com

Gagasan Nobel Ekonomi 2025: Pertumbuhan persisten berorientasi pengetahuan serta disrupsi

● Nobel Ekonomi 2025 jatuh kepada Philippe Aghion, Peter Howitt, dan Joel Mokyr.

● Ketiganya berikan sumbangsih gagasan mengenai pertumbuhan ekonomi persisten berbasis pengetahuan dan disrupsi.

● Indonesia pun perlu untuk mengedepankan ilmu pengetahuan dalam kebijakannya.


Akademi Sains Swedia mendapuk tiga ekonom yang menjadi Guru Besar maupun Guru Besar Emiritus di Amerika Serikat dan Eropa sebagai penerima anugerah Nobel Ekonomi 2025. Pertama, Philippe Aghion seorang profesor asal Prancis dari Sekolah Bisnis INSEAD, Perancis. Aghion juga menjadi Guru Besar Tamu di London School of Economics, Inggris Raya.

Kedua, Peter Howitt . Berkebangsaan Kanada kelahiran 1946, ia pernah menjabat Guru Besar Ekonomi di Brown University, AS dan kini telah emiritus. Ketiga, Joel Mokyr yang memiliki dwi kewarganegaraan Israel serta Amerika Serikat yang juga adalah Guru Besar Ilmu Ekonomi di Nortwestern University, AS.

Trio ekonom Nobel Ekonomi 2025 ini berbeda dari trio Acemoglu, Johnson dan Robinson — pemenang anugerah Nobel Ekonomi 2024 yang mendapat pengakuan terhadap karya kolaborasi mereka.


Read more: Nobel ekonomi 2024: warisan kolonial dan pesan antikorupsi untuk pemerintah mendatang


Aghion dan Howitt bekerja bersama mencetuskan teori ekonomi berkesinambungan yang persisten (sustained growth) melalui proses yang dikenal sebagai penghancuran kreatif (creative destruction). Teori ini berbeda dari ekonomi berkelanjutannya William Nordhaus yang juga memenangkan anugerah ini pada 2017.

Keduanya sukses memperbarui teori klasik ekonom Austria-Amerika [Joseph Schumpeter] melalui makalah bertajuk “A Model of Growth Through Creative Destruction” yang terbit di Econometrica tahun 1992.

Sementara itu, Mokyr menerbitkan buku berjudul “The Lever of Riches: Technological Creativity and Economic Progress”. Argumen utama dalam buku terbitan 1990 itu adalah bagaimana inovasi berakselerasi ketika terobosan ilmiah dan pengetahuan praktis saling memperkuat.

Aghion dan Howitt memberikan model teoritis yang menjelaskan apa dan bagaimana peran disrupsi ekonomi bagi pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi. Sementara karya-karya Mokyr memberikan landasan bagi pertumbuhan berkelanjut melalui inovasi teknologi.

Ekonomi persisten ala trio Nobel 2025

Sepanjang sejarah peradaban material manusia sebelum era revolusi industri – melalui invensi mesin uap oleh James Watt pada 1769 setelah sebelumnya Johannes Gutenberg menciptakan “mesin cetak’ pertama di Jerman — standar kehidupan dari generasi ke generasi bisa dapat dikatakan tidak berkembang (stagnan).

Namun begitu, setelah mesin uang ditemukan dan dipakai secara masif di Inggris hingga berkembang ke seluruh dunia, kita menjumpai kemajuan yang sangat pesat. Ilmu Ekonomi mengukurkan melalui tingkat pendapatan per kapita.

Gambar menjelaskan dengan sederhana, bagaimana Inggris dan Swedia bertumbuh pesat dan menjadi negara yang maju serta makmur dengan pertumbuhan ekonomi berkesinambungan/ persisten. Gambar: penulis

Model ini yang bisa dijadikan dasar pemikiran ekonomi berkesinambungan dari para peraih nobel 2025.

Mokyr

Joel Mokyr yang juga ahli dalam bidang sejarah ekonomi memiliki dua gagasan utama. Pertama, bagaimana suatu perekonomian menghasilkan pertumbuhan yang terus menerus (sustained growth) dari tadinya stagnasi ekonomi. Kedua, bagaimana ekonomi berbasis inovasi dapat menghasilkan sustained growth terutama hal-hal apa saja yang menjadi kata kunci penjelas bagi khalayak umum, sebagai bagian dari edukasi.

Secara khusus, studinya menghubungkan sejumlah observasi kunci. Pertama, kemajuan dalam bidang filsafat dan teori telah berlangsung sejak ribuan tahun silam. Kedua, inovasi yang meningkatkan produktivitas termasuk alat, produk, serta metode produksi baru yang menjadi elemen utama dalam proses produksi—telah mengalami kemajuan selama berabad-abad.

Ketiga, setiap perkembangan tersebut umumnya terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat dan kemudian mengalami stagnasi seiring berjalannya waktu.

Mokyr menegaskan pentingnya keberlangsungan dinamika perkembangan pengetahuan yang bermanfaat (useful knowledge). Pengetahuan tersebut terbagi menjadi dua jenis. Pertama, apa yang Ia sebut propositional knowledge, yaitu pengetahuan berupa uraian sistematis mengenai keteraturan dalam alam yang menjelaskan alasan di balik berfungsinya suatu hal.

Kedua, Mokyr menyebutnya sebagai prescriptive knowledge, yaitu pengetahuan praktis yang diwujudkan dalam bentuk petunjuk, rancangan, atau resep yang menjelaskan langkah-langkah yang diperlukan agar sesuatu dapat berfungsi dengan baik.

Agar gagasan-gagasan baru dapat terimplementasi, dibutuhkan pengetahuan yang bersifat praktis, teknis, serta komersial. Tanpa ketiganya, bahkan ide paling brilian sekalipun akan tetap menjadi konsep belaka.

Mokyr merujuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan pertama kali muncul di Inggris Raya karena negara tersebut memiliki banyak pengrajin dan insinyur yang ahli.

Pertumbuhan yang bersumber dari kemajuan teknologi tidak hanya menciptakan pihak-pihak yang diuntungkan, tetapi juga menimbulkan kerugian bagi sebagian lainnya. Inovasi baru sering kali menggantikan teknologi lama dan berpotensi merombak tatanan serta pola kerja yang telah mapan.

Aghion dan Howitt

Aghion dan Howitt menekankan proses transformatif yang dikenal sebagai penghancuran kreatif, merupakan syarat utama tercapainya pertumbuhan ekonomi berkesinambungan (sustained economic growth). Penghancuran kreatif yang dimaksud adalah dinamika ketika perusahaan dan lapangan kerja lama secara terus-menerus digantikan oleh yang baru. Istilah tersebut yang saat ini kita kenal sebagai dinamika disrupsi ekonomi

Perusahaan yang mampu menciptakan produk unggul atau menemukan metode produksi yang lebih efisien dapat mengalahkan pesaingnya dan meraih posisi sebagai pemimpin pasar.

Namun, keberhasilan tersebut sekaligus memicu dorongan bagi perusahaan lain untuk melakukan inovasi lebih lanjut terhadap produk atau proses produksinya demi merebut posisi terdepan.


Read more: Nobel Ekonomi 2023: Bagaimana sejarah ekonomi dan kontrasepsi menerangkan perkembangan kesenjangan gender


Gagasan disruptif sejatinya berasal dari Joseph Schumpeter yang menempatkan peran sentral ekonomi pada perusahaan. Schumpeterian Economics memandang jatuh bangunnya perusahaan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Aktor utama pemikiran ini tidak lain ialah pengusaha (entrepreneur). Ia menciptakan perusahaan baru dengan berbagai produk-produk inovatif, ekonomi ikut berkembang bersama mereka.

Relevansi bagi Indonesia

Perekonomian Indonesia sejak era Kolonial hingga era reformasi sangat mengandalkan sumber daya alam yang berujung ekstraktif. Minyak dan gas bumi era kolonial dan Orde Baru digantikan oleh kelapa sawit serta batu bara di era SBY. Sementara hiliriasi nikel menjadi mantra yang berulang-ulang digaungkan Joko Widodo.

Sulit mengharapkan perubahan dari ekstraktif ekonomi berubah kepada penghancuran kreatif/disrupsi dan pengetahuan.

Penampakan salah satu situs tambang emas. Sudah sekian lama Indonesia mengandalkan industri ekstraktif. Parilov/ Shutterstock.com

Meskipun begitu, upaya mendorong ekonomi berbasis inovasi telah kita mulai melalui langkah awal pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2021.

Memasuki usianya yang keempat, The Conversation Indonesia menerbitkan artikel kritis Hafiz Noer mengevaluasi perjalanan BRIN dengan fokus terhadap tiga hal krusial bagi tumbuhnya ekosistem riset yang kontributif bagi Indonesia, yaitu: sumber daya manusia, infrastruktur riset, serta pendanaan.

Tak hanya BRIN, stagnansi ekonomi perlu partisipasi aktif pemerintah, swasta, serta masyarakat akademik bergerak bersama menghindari dari stagnasi ekonomi. Kita menyambut positif target pertumbuhan ekonomi 8%. Namun perlu langkah-langkah kongkrit mewujudkannya dengan mendorong pertumbuhan yang berbasis inovasi dan pengetahuan.

Pada kenyataannya, sebagian besar sejarah peradaban material manusia maka kondisi yang umum terjadi bukanlah pertumbuhan, melainkan stagnasi ekonomi. Melalui karya Mokyr, Aghion dan Howitt, kita bisa mewaspadai berbagai ancaman yang dapat menghambat keberlanjutan pertumbuhan.


Read more: Sama-sama memangkas anggaran, ini yang berbeda dari efisiensi di Vietnam


Ancaman tersebut dapat muncul, misalnya, ketika sejumlah kecil perusahaan diberi keleluasaan untuk menguasai pasar atau ketika kebebasan akademik dibatasi.


Tulisan ini juga didedikasikan untuk (Alm) Hermansyah, Ayahku yang baru saja meninggal Sabtu, 11 Oktober lalu, Ia mengajarkanku mencintai Sejarah.


Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 235,100 academics and researchers from 5,638 institutions.

Register now