Algi Febri Sugita/ Shutterstock.

Cina tetap jadi mitra strategis kebijakan ekonomi luar negeri Indonesia

Indonesia bertekad mewujudkan visi-misi Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju. Pemerintah mengharapkan, bertepatan dengan usia seabad tersebut, Indonesia telah menjelma sebagai negara “berdaulat, maju, dan berkelanjutan.”

Indonesia Emas 2045 tidak hanya jadi slogan politis semata. Ada berbagai parameter utama yang menjadi target: 1) Pendapatan per kapita setara negara maju (US$ 30.300 atau Rp470 juta); 2) Kemiskinan menuju nol persen (0,5-0,8%) dan ketimpangan berkurang (rasio gini 0,377-0,320); 3) Kepemimpinan dan pengaruh di dunia internasional meningkat (Global Power Index peringkat 15 besar); 4) Daya saing sumber daya manusia meningkat (Human Capital Index 0,73); 5) Intensitas emisi gas rumah kaca menurun menuju net zero emission (93,5%).

Untuk mewujudkan visi ini, Indonesia memerlukan kemitraan dengan negara-negara lain. Menurut saya, Cina adalah salah satu mitra utama dan strategis yang perlu diperhatikan. Sebab, pada abad ke-21 ini, kita akan menyaksikan akselerasi perekonomian Asia, yang didorong oleh Cina, secara sangat pesat.

Abad ke-21 bahkan diproyeksikan sebagai “Abad Asia (Asian Century)”. Konsep ini sejajar dengan karakterisasi abad ke-19 sebagai “Abad Inggris”, dan abad ke-20 sebagai “Abad Amerika Serikat”.

Gambar I. Proyeksi porsi ekonomi Asia terhadap ekonomi global secara keseluruhan.

Cina sudah menjelma menjadi pusat rantai pasok dunia atau global supply chain. Infografis di atas juga menggambarkan bahwa industrialisasi di Cina juga sangat pesat hingga meninggalkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Prancis.

Sepuluh tahun terakhir pun, Cina sudah terbukti menjadi mitra penting pembangunan Indonesia. Oleh karena itu, kemitraan di bidang ekonomi tersebut saya nilai perlu dipertahankan.

Peran strategis Cina bagi Indonesia

Ada setidaknya lima alasan yang membuat Cina layak dipertahankan sebagai mitra utama ekonomi nasional.

Pertama, Cina merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Pada 2023, total perdagangan Cina-Indonesia mencapai US$127,8 miliar atau senilai Rp1.980 triliun (tidak termasuk Hong Kong). Dalam perniagaan tersebut, eksportasi Indonesia lebih besar ketimbang importasinya sehingga menyebabkan surplus perdagangan sejak Mei 2020.

Hubungan perdagangan yang erat ini tidak hanya mencakup ekspor-impor barang, tetapi juga mencakup investasi dalam sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan, manufaktur, dan teknologi informasi. Dengan peran penting dalam rantai pasokan global, Cina membantu Indonesia meningkatkan kapasitas industrinya serta memperluas akses pasar ke seluruh dunia.

Gambar II. Tren peningkatan volume perdagangan internasional Cina hingga 2018.

Kedua, Cina telah berperan besar dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia, khususnya melalui Belt and Road Initiative (BRI). Proyek-proyek besar seperti kereta cepat Jakarta-Bandung dan hilirisasi pertambangan menunjukkan komitmen Cina dalam membangun infrastruktur modern yang dapat mempercepat konektivitas dan mobilitas di Indonesia. Infrastruktur yang kuat adalah fondasi penting bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ketiga, Cina adalah pemimpin global dalam teknologi digital, termasuk 5G, kecerdasan buatan, dan inovasi teknologi lainnya. Kolaborasi dengan perusahaan teknologi Cina seperti Huawei dan ZTE telah membantu mempercepat transformasi digital Indonesia. Pengembangan ekonomi digital merupakan salah satu pilar utama dalam visi Indonesia Emas 2045, dengan target digitalisasi yang signifikan dalam berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kreatif.

Keempat, investasi Cina di bidang energi terbarukan dan teknologi ramah lingkungan sejalan dengan tujuan Indonesia untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan lingkungan yang lebih hijau. Dukungan dalam bentuk investasi dan transfer teknologi dari Cina membantu upaya Indonesia mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mempercepat transisi ke energi hijau. Upaya ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Melalui kolaborasi yang erat dengan Cina, Indonesia berupaya untuk mencapai pembangunan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis teknologi, yang merupakan pilar utama dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Cina di pusaran ekonomi global

Globalisasi beserta perdagangan bebasnya membuka peluang bagi sebuah negara untuk bertumbuh. Hal itulah yang diperlihatkan Cina. Sejak bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001, volume perdagangan global Cina melesat.

Sudah jadi rahasia umum bahwa organisasi global dan lembaga multilateral adalah sebuah permainan yang dirancang oleh negara-negara maju. Namun, Cina berhasil menaklukan permainan tersebut dengan baik.

Setidaknya ada tiga syarat yang berhasil dicapai Cina mengoptimalkan peluang globalisasi. Pertama adalah partisipasi aktif dalam lembaga dan institusional global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, WTO, dan sebagainya.

Kedua, sebuah negara harus menjalankan hukum keunggulan komparatif (industrialisasi). Artinya, suatu negara sebaiknya memproduksi barang dan jasa dengan biaya relatif lebih rendah dibandingkan negara lain. Mereka kemudian menukarkannya dengan barang dan jasa yang lebih mahal untuk diproduksi secara domestik.

Ketiga, selain teori yang menjelaskan keunggulan perdagangan bebas, dalam praktiknya kita juga membutuhkan para juara yang memimpin upaya pengurangan perbatasan perdagangan dan meyakinkan negara-negara lain untuk ikut membuka pasarnya.

Sayangnya, kesuksesan Cina yang telah menakklukan permainan negara-negara Barat ini menjadi boomerang. Amerika Serikat, misalnya, melakukan proteksi besar-besaran terhadap produk-produk industri unggulan Cina seperti kendaraan listrik.

Globalisasi dengan perdagangan bebasnya, walaupun belum berhasil memberikan kesejahteraan yang merata, telah efektif meningkatkan pertumbuhan ekonomi di banyak negara. Bermitra dengan Cina yang saat ini jadi opsi yang masuk akal. Sebab, pada 2024, Cina telah beralih dari diplomasi agresif ala “kesatria serigala” ke pendekatan yang lebih kooperatif untuk membangun kembali hubungan internasionalnya.

Tetap relevan dengan kebijakan luar negeri nasional

Dunia saat ini menghadapi pemanasan global. Inilah yang membuat kita semakin memerlukan kerja sama untuk merefleksikan hal mendasar yakni dialog atau diplomasi.

Untuk mendalami makna dialog ini, gagasan Dennis McCann, Direktur Riset Rothlin International Management Consulting (Beijing), dalam artikel berjudul “What does it mean to dialogue with China?” berharga untuk dijadikan acuan.

McCann mengatakan bahwa dialog yang sejati merupakan percakapan yang damai, saling mendengarkan dan menghormati. Dialog sejati adalah interaksi untuk mengupayakan saling pengertian dan kerja sama yang tulus.

Kedekatan Indonesia dengan Cina tidak hanya sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, tetapi juga dapat dilihat sebagai pelaksanaan yang lebih optimal dari prinsip tersebut dalam konteks dunia multipolar saat ini.

Sebagai negara dengan pengaruh global yang terus meningkat, Cina memberikan alternatif mitra strategis yang memungkinkan Indonesia untuk menyeimbangkan ketergantungannya terhadap kekuatan Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dengan mengakrabkan diri dengan Cina, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperluas opsi dalam diplomasi internasional, baik dari segi ekonomi, perdagangan, maupun politik yang sesuai dengan prinsip bebas aktif yang dianut negara.

Selain itu, hubungan yang semakin erat dengan Cina meningkatkan daya tawar Indonesia dalam bernegosiasi dengan negara-negara Barat. Selama Orde Baru hingga era Reformasi, kelompok negara Barat menjadi penentu utama arah kebijakan ekonomi dan politik Indonesia. Dengan adanya Cina sebagai mitra besar, Indonesia memiliki posisi yang lebih kuat untuk menuntut kesepakatan perdagangan yang lebih adil, investasi yang lebih bermanfaat, dan dukungan dalam proyek-proyek strategis yang dapat memperkuat pembangunan domestik.

Gambar III. 2 negara Asia (India dan Cina) memiliki porsi tinggi dalam perkembangan ekonomi global hingga 2050.

Keberadaan Cina sebagai salah satu mitra utama Indonesia memungkinkan Indonesia untuk berperan lebih fleksibel dan menekankan kepentingan nasionalnya dengan lebih tegas di hadapan negara-negara Barat, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi dan politiknya dalam percaturan global. Kemandirian ini merupakan prasyarat sekaligus perwujudan visi Indonesia emas 2045.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 235,100 academics and researchers from 5,638 institutions.

Register now