
Mahasiswa S3 (khususnya asal Indonesia) menghadapi beban studi berat dan biaya besar. Sayangnya, kondisi ini tidak diimbangi dengan dukungan sepadan sehingga berisiko memicu stres hingga depresi di kalangan mereka.
Bersama para akademisi, The Conversation Indonesia menerbitkan edisi khusus Jalan Terjal Doktoral untuk mengangkat problema yang menghantui mahasiswa doktoral/PhD. Edisi ini sekaligus memantik refleksi kita mengenai pentingnya dukungan, baik material maupun nonmaterial, bagi para pejuang S3.
Memiliki keluarga bagi seorang calon doktor atau kandidat PhD bak pedang bermata dua. Di satu sisi, keluarga bisa menjadi sistem pendukung yang baik. Namun, di sisi lain, tanggung jawab sebagai orang tua berisiko memberikan beban tambahan bagi mereka yang sedang menanggung beban studi yang berat.
Sebuah penelitian di masa pandemi, misalnya, mengungkapkan bahwa kandidat PhD yang juga mengemban tanggung jawab sebagai orang tua, lebih rentan mengalami depresi dibandingkan kandidat yang tidak memiliki anak.
The Conversation Indonesia berbincang mengenai hal ini dengan Damba Bestari, dosen ilmu kedokteran jiwa fakultas kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, yang juga berprofesi sebagai psikiater di Rumah Sakit Unair.
Sebenarnya, apa penyebab terbesar depresi yang rentan dialami calon doktor?
Penyebab depresi itu sebetulnya multifaktorial, tidak ada penyebab tunggal. Namun, salah satu faktor risikonya adalah ketidakseimbangan antara terlalu besarnya beban tanggung jawab akademis dan finansial dengan (pemenuhan kualitas) kehidupan sehari-hari.
Terlebih, sebagian besar kandidat PhD sudah berkeluarga dan memiliki anak, bahkan cukup banyak yang anaknya masih kecil. Beban-beban ini akan semakin bertambah, terutama ketika mereka punya sifat perfeksionis. Sebagian besar kandidat PhD punya karakter seperti itu. Secara usia, mereka juga tidak terlalu muda lagi, sehingga stamina pasti menurun.
Kumpulan faktor ini bisa meningkatkan risiko calon doktor mengalami depresi.
Sementara, tuntutan akademis S3 itu kan lebih besar ya, berbeda dengan S1 dan S2. Berdasarkan cerita beberapa rekan dosen yang sedang tugas belajar S3, mereka mengaku cukup kesulitan mengatur tugas sebagai dosen, kandidat doktor, sekaligus orang tua bagi anaknya.
Apakah calon doktor yang sudah berkeluarga lebih rentan stres?
Ya, dan kemungkinannya bisa dua (berdampak baik dan buruk). Positifnya, keluarga bisa berperan sebagai support system (sistem pendukung). Dalam hal ini, suami-istri bisa menjadi tim yang bahu membahu dalam menyelesaikan disertasi. Misalnya, suaminya bantu mengetik, istrinya bantu menerjemahkan (seperti kutipan dari buku ataupun hasil wawancara).
Secara finansial, pasangan juga dapat memberikan suntikan dana tambahan untuk menyelesaikan studi.
Sederet keuntungan ini mungkin tidak didapatkan ketika belum berkeluarga.
Minusnya adalah keharusan berbagi peran sebagai calon doktor yang harus menyelesaikan studi tepat waktu (karena tuntutan kampus, promotor, ataupun penyedia beasiswa) sekaligus orang tua yang ingin hadir untuk anaknya. Konflik tersebut bisa memicu depresi.
Menurut penelitian (dilakukan di masa pandemi), kandidat PhD yang punya beban tanggung jawab sebagai orang tua 14 kali lebih rentan mengalami depresi dibandingkan kandidat PhD yang tidak punya anak.
Apalagi kalau si calon doktor tidak realistis dan ingin sempurna dalam segala hal. Ini akan membuat dia semakin rentan depresi.
Meski begitu, hal ini tidak lantas mengesampingkan struggle dari calon doktor yang masih single ya. Karena pada dasarnya setiap calon doktor juga punya masalah pribadi (di luar beban studi), misalnya menyangkut adaptasi budaya dan bahasa (bagi yang studi di luar negeri), juga perasaan yang muncul akibat kesendirian.
Seperti apa gejala khas depresi yang harus diwaspadai?
Kriteria diagnosis depresi di Indonesia menggunakan ICD-10. Gejala depresi berdasarkan ICD-10 (klasifikasi statistik mengenai masalah kesehatan) adalah 3A, yaitu anhedonia (kehilangan minat dan sulit merasakan kebahagiaan), afek depresif (terlihat sedih dan murung sepanjang hari), dan anenergia (gampang capek meskipun sudah beristirahat dengan cukup).
Selain itu, ada gejala penyerta, seperti kurang fokus, rendah diri, pesimis, nafsu makan berkurang, dan mengalami gangguan tidur. Nah, depresi itu juga ada spektrumnya: ringan, sedang, dan berat. Seseorang yang dikategorikan depresi tidak harus punya semua gejala tadi.
Seseorang dikatakan depresi ketika beberapa kriteria tersebut dialami minimal selama dua minggu. Jadi, kalau sesekali kita susah fokus dan susah tidur itu hal yang wajar. Namun, ketika gejala tadi terjadi terus-menerus selama minimal dua minggu, maka mungkin bisa dikategorikan sebagai depresi. Meskipun yang bisa menegakkan diagnosisnya hanyalah profesional (dokter umum, psikolog, dan psikiater).

Bagaimana efek depresi bisa mengganggu hubungan dengan keluarga?
Gejala dari depresi membuat seseorang mengisolasi diri, cenderung berpikir negatif, hilang minat dan energi sehingga malas berinteraksi. Itu semua bisa memengaruhi kualitas hubungan interpersonal, terutama dengan keluarga.
Jadi, jika awalnya punya hubungan yang kurang baik bisa semakin memburuk. Karena mungkin keluarganya merasa ini orang (si calon doktor yang depresi) kok malas dan terus mengeluh.
Kemudian, orang dengan depresi juga mudah tersinggung karena kesulitan meregulasi emosi. Kalau dia punya anak biasanya juga jadi susah untuk bisa dekat dengan anak.
Banyak orang tidak tahu kalau itu semua sebetulnya gejala depresi. Yang terlihat, orang itu seperti malas-malasan. Padahal bukan malas, itu salah satu gejala depresi karena merasa kekurangan energi terus-menerus. Ini semua bisa memicu kesalahpahaman di dalam keluarga dan bisa memperparah depresi mereka.
Langkah personal apa saja yang perlu dilakukan calon doktor agar terhindar dari depresi?
Dari sisi internal, salah satu yang membuat mereka rentan depresi adalah sikap idealis ingin sempurna (di tengah beban tanggung jawab yang terlalu besar). Standarnya tidak realistis.
Jadi, standarnya perlu diturunkan, good enough is good. Dan pahamilah bahwa stamina saat ini memang tidak sebagus ketika S1 dulu.
Kemudian, coba belajar manajemen prioritas dan mendelegasikan tugas. Tidak semua harus dilakukan sendirian.
Peran asisten dan rekan kolaborasi, misalnya, sangat signifikan. Buatlah tim untuk sampling, bantu translate, atau ngetik, meskipun supervisinya tetap dari kita. Namun, memang tidak semua orang punya privilese ini. Karena di luar negeri, hal ini mungkin sulit dilakukan dikarenakan kegiatan PhD harus dilakukan mandiri. Kalaupun pakai asisten, mungkin ada keterbatasan biaya dan kapasitas sejauh mana si asisten bisa membantu risetnya.
Nah, untuk yang berkeluarga juga bisa berbagi tugas dengan pasangan dalam mengurus anak. Atau jika memang dibutuhkan, memiliki asisten rumah tangga bisa menjadi pilihan.
Jadi, tidak semua harus diurus sendiri. Coba dibagi tugasnya dengan yang lain. Jangan lupa seimbang ya. Karena ketika semakin banyak tegangannya, relaksasinya juga harus diperbanyak.
Tiap orang punya cara untuk menenangkan diri, bisa dengan cerita ke teman, sahabat, pasangan, bahkan kalau perlu ke profesional, seperti psikolog.
Atau bisa juga ngobrol dengan mentor/senior mengenai pengalaman menyelesaikan disertasi. Selain itu, tetap lakukan hobi, olahraga, penuhi kebutuhan dasar (tidur dan makan), karena itu semua penting.
Pada dasarnya tipsnya basic aja ya, tapi memang tidak mudah untuk dijalankan.
Bagaimana keluarga bisa membantu calon doktor agar terhindar dari depresi?
Inilah pentingnya berkomunikasi dengan keluarga ketika ingin bersekolah, terutama pasangan. Agar mereka juga siap dengan tambahan tanggung jawab yang akan dimiliki pasangannya saat menempuh S3.
Ketika lebih siap, mereka (keluarga) juga bisa lebih mendukung dia (si calon doktor). Dukungan tersebut bisa datang dari mana saja, bisa dari anaknya, atau orang tuanya (bagi yang masih melajang), tergantung siapa support system-nya.
Dukungan itu juga banyak wujudnya, bisa lewat dukungan finansial ataupun servis, seperti memijat pasangan ketika dia sedang lelah dengan studinya.
Selain itu, keluarga bisa memberikan dukungan dengan menyediakan ruang dan waktu agar dia bisa bekerja tenang, serta mengingatkan jangan lupa makan, jangan lupa hobi, jangan lupa ngobrol. Intinya keluarga harus suportif.
