Penggunaan steroid anabolik untuk tingkatkan performa maupun percepat pembentukan otot justru bahayakan kesehatan.
Penggunaan steroid anabolik untuk tingkatkan performa maupun percepat pembentukan otot justru bahayakan kesehatan. Lebedev Roman Olegovich / Shutterstock

Bikin otot instan, bahaya steroid anabolik picu sakit jantung hingga depresi

Pada awal 2024 lalu, petenis peringkat satu dunia, Jannik Sinner terbukti positif menggunakan zat terlarang bernama steroid anabolik atau dikenal pula sebagai steroid fitness. Ini merupakan hormon sintetis untuk mempercepat pembentukan otot yang cara kerjanya meniru hormon testosteron.

Dalam dunia kedokteran, steroid anabolik biasanya diresepkan untuk kondisi tertentu, seperti mengatasi kekurangan kadar testosteron pada laki-laki pengidap hipogonadisme hingga merangsang pertumbuhan otot penyintas AIDS. Sayangnya, obat resep ini juga banyak disalahgunakan untuk meningkatkan performa maupun membentuk otot secara instan—yang justru membahayakan kesehatan.

Penelitian Badan Antidoping Dunia (WADA) dan berbagai studi, mengungkapkan bahwa penyalahgunaan steroid anabolik terbukti dapat merusak kesehatan fisik dan mental.

Efek samping berbahaya steroid anabolik

WADA melarang atlet menggunakan steroid anabolik dalam kompetisi olahraga resmi, termasuk di Indonesia. Dalam ranah kompetisi olahraga, penyalahgunaan obat ini tanpa disertai resep dokter merupakan tindakan ilegal yang melanggar hukum.

Kendati ilegal, pemakaian doping steroid terus terjadi. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok terbesar pengguna steroid adalah laki-laki dewasa muda berusia produktif antara 20-40 tahun, yang ingin memiliki tubuh berotot dalam waktu singkat.

Studi dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menunjukkan sebanyak 1-5% populasi dunia pernah menggunakan steroid anabolik bukan karena alasan kesehatan, melainkan demi memiliki tampilan ideal. Sementara di kalangan atlet, alasan penggunaan steroid fitness sering kali didorong oleh hasrat kompetitif demi meningkatkan performa.

Padahal, penggunaan jangka panjang steroid anabolik justru dapat menimbulkan efek samping negatif pada kesehatan fisik dan mental, di antaranya:

1. Penyakit jantung

Studi dari American Heart Association mengungkapkan bahwa pengguna steroid anabolik berisiko lebih besar terkena penyakit jantung dibandingkan orang yang tidak menggunakannya.

Steroid anabolik dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol sehingga bisa merusak pembuluh darah arteri dan memicu serangan jantung ataupun stroke.

2. Kerusakan hati dan ginjal

Steroid anabolik akan diproses oleh hati. Namun, penggunaan jangka panjang suplemen ini dapat menyebabkan hati mengalami pembesaran hingga kerusakan permanen.

Selain itu, tumpukan zat-zat berbahaya dalam steroid anabolik dapat mengganggu fungsi ginjal dan mendorong terjadinya gagal ginjal akut maupun kronis.

Tren penggunaan steroid anabolik meningkat di kalangan atlet dan laki-laki berusia produktif.
Tren penggunaan steroid anabolik meningkat di kalangan atlet dan laki-laki berusia produktif. New Africa / Shutterstock

3. Gangguan keseimbangan hormon

Penggunaan steroid anabolik dalam durasi lama dapat menekan produksi testosteron alami dalam tubuh. Akibatnya, pengguna suplemen ini berisiko mengalami penurunan kadar testosteron, ginekomastia (pembesaran jaringan payudara laki-laki), hingga infertilitas.

4. Mudah marah

Steroid dapat meningkatkan kadar testosteron hingga melebihi level normal dan membuat penggunanya mengalami (roid rage) (menjadi lebih agresif, mudah marah, dan gelisah).

Pengguna steroid dilaporkan lebih sering terlibat konflik sosial akibat perilaku impulsif ini.

5. Depresi dan kecemasan

Ketika mencoba berhenti atau mengurangi penggunaan steroid, pengguna sering kali mengalami gejala depresi dan kecemasan yang cukup berat. Beberapa studi menunjukkan adanya peningkatan risiko gangguan mental akibat fluktuasi hormonal selama penggunaan steroid.

6. Ketergantungan citra tubuh

Steroid anabolik membantu penggunanya mencapai bentuk tubuh yang sulit dicapai secara alami, tetapi secara bersamaan membuat mereka menjadi ketergantungan.

Kondisi yang disebut muscle dysmorphia atau bigorexia ini membuat pengguna steroid merasa tidak percaya diri atau “kurang berotot” tanpa suplemen tersebut, kendati mereka sudah memiliki tubuh yang ideal.

Efek samping steroid anabolik picu gejala depresi ketika penggunaannya dikurangi.
Efek samping steroid anabolik picu gejala depresi ketika penggunaannya dikurangi. Realstock / Shutterstock

Pilih alternatif sehat minim risiko

Pembentukan otot yang aman dan sehat sebenarnya dapat dicapai melalui cara alami, seperti menjaga pola makan seimbang, latihan fisik terprogram, dan istirahat yang cukup. Dukung pertumbuhan otot secara aman melalui diet tinggi protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, vitamin, maupun mineral.

Lakukan pula latihan kekuatan secara konsisten dan biasakan memiliki jam tidur yang cukup dan teratur, minimal 7-8 jam per hari, untuk mendorong pertumbuhan otot secara optimal. Dengan menerapkan gaya hidup sehat, kamu dapat mencapai tubuh ideal minim risiko yang mengancam kesehatan fisik dan mental.

Penggunaan steroid anabolik memang memberikan hasil instan dalam membentuk otot dan meningkatkan performa, tetapi risikonya jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya. Penyalahgunaan suplemen ini tanpa resep dokter dapat membahayakan fisik dan mental.

Karena itu, pemerintah perlu lebih gencar mengedukasi masyarakat mengenai bahaya steroid anabolik dan pentingnya alternatif pembentukan otot yang sehat, aman, dan alami. Edukasi mengenai gaya hidup sehat dan pilihan olahraga yang aman juga perlu dimaksimalkan.

Selain itu, pemerintah perlu memperketat aturan larangan penyalahgunaan steroid anabolik tanpa resep dokter di luar kompetisi olahraga resmi agar mengurangi risiko penyalahgunaan obat.

Dengan aturan yang ketat dan edukasi yang gencar, diharapkan dapat mengurangi kasus penyalahgunaan steroid anabolik serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gaya hidup sehat yang minim risiko.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 235,100 academics and researchers from 5,638 institutions.

Register now