Ilustrasi serangga penyerbuk (Lebah). Shutterstock/Bibadash

Apa yang terjadi jika dunia tanpa serangga?

Krisis iklim bukan cuma berdampak pada kehidupan manusia, tapi juga makhluk hidup lain, termasuk serangga penyerbuk seperti lebah.

Cuaca yang makin tak menentu akibat perubahan iklim bisa mengganggu siklus hidup dan perkembangbiakan mereka.

Kenaikan suhu, misalnya, bisa membuat ukuran tubuh serangga menyusut dan masa pertumbuhannya jadi lebih singkat.

Di sisi lain, suhu yang memanas juga bisa memicu ledakan populasi serangga tertentu, seperti belalang kembara—hama yang merusak tanaman pertanian.

Perubahan iklim juga berdampak pada lingkungan pendukung kehidupan serangga, seperti ketersediaan makanan (tanaman) yang bisa berkurang akibat suhu ekstrem atau kekeringan. Ujungnya, bisa berimbas pada penurunan populasi bahkan kepunahan serangga.

Lebah, madu dan sarangnya. Pexels @ionelceban

Lantas, kenapa kita harus peduli?

Sadar atau tidak, manusia butuh serangga.

Dalam edisi terbaru Ask the Expert, kami berbincang dengan Rosyid Amrulloh, peneliti bidang Ecologi Serangga dan Konservasi dari Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences, IPB University.

Rosyid menjelaskan bahwa 75% tanaman pangan dunia bergantung pada penyerbukan oleh hewan, terutama serangga penyerbuk.

“Kalau serangga punah, otomatis kita tidak bisa menikmati hasil penyerbukan mereka, terutama buah-buahan. Pilihan makanan kita jadi terbatas dan kita harus mencari sumber nutrisi lain pengganti buah. Sampai sekarang, manusia belum bisa menciptakan buah secara sintetis,” ujar dia.


Read more: Serigala ‘dire wolf’ bangkit lagi, tapi apakah mereka mampu bertahan dan berfungsi selayaknya bagi alam?


Setiap hari, berbagai jenis serangga penyerbuk seperti lebah terbang dari bunga ke bunga lainnya untuk mengisap nektar.

Dalam proses itu, serbuk sari yang menempel pada sayap atau kaki mereka akan terbawa ke kepala putik bunga lain, sehingga terjadi proses penyerbukan yang memungkinkan terjadinya pembuahan dan pembentukan buah serta biji baru.

Meskipun ada sebagian tanaman yang mampu menyerbuk sendiri, tetap saja hasilnya tidak optimal tanpa bantuan serangga. Kata Rosyid, berbagai riset menunjukkan bahwa bunga yang dikunjungi serangga menghasilkan buah dengan ukuran yang lebih besar dan matang lebih cepat.

Jadi, makhluk kecil ini punya peran besar dalam kehidupan kita.

Bayangkan jika tidak ada lebah atau serangga penyerbuk lainnya—mungkin kita tidak akan bisa lagi menikmati manisnya madu dan beragam buah-buahan segar.

Oleh karena itu, aksi kolektif untuk mengatasi krisis iklim menjadi sangat penting dan mendesak. Sembari menanti perubahan kebijakan dan langkah besar, ujar Rosyid, kita bisa melakukan konservasi kecil-kecilan dengan menanam berbagai jenis bunga dan tanaman berbunga yang menjadi sumber pakan utama serangga di pekarangan rumah kita.

“Setidaknya itu salah satu upaya kecil yang bisa kita lakukan untuk menjaga keberadaan serangga penyerbuk di sekitar kita,” ujarnya.

Simak video wawancara lengkapnya di sini:

Tonton video-video seputar sains menarik lainnya hanya di channel YouTube dan TikTok The Conversation Indonesia, jangan lupa ikuti dan berlangganan sekarang juga!

YouTube The Conversation Indonesia

TikTok The Conversation Indonesia

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 234,900 academics and researchers from 5,636 institutions.

Register now