{"id":18755,"date":"2026-10-26T15:24:29","date_gmt":"2026-10-26T08:24:29","guid":{"rendered":"https:\/\/edisi.co\/?p=18755"},"modified":"2026-10-26T15:25:55","modified_gmt":"2026-10-26T08:25:55","slug":"biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/","title":{"rendered":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3)"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><em>Malam itu, ada sekitar 800 anggota Kelompok Aksi Sami yang ambil bagian di Titik Nol. Dari jumlah itu, 150 orang berada di depan tembok es dengan tenda-tenda mereka, 70 di antaranya merantai diri mereka pada tembok es yang menjadi blokade. Sebanyak 600 polisi bekerja sepanjang hari menangkap masa aksi yang tergabung dalam Kelompok Aksi Sami. (William Lawrence, 2011).<\/em><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><em>Aksi, orasi dan audiensi yang mereka jalani ini, untuk mengabari bahwa mereka tidak diperlakukan secara adil. Bahwa intimidasi, teror dan kekerasan fisik telah mereka alami dan itu terus menghantui. Dalam kepayahan tersebut, gerak masyarakat Pulau Rempang yang berhasil sampai ke ibu kota, juga menandai bahwa perjuangan untuk menjaga kampung terus ada.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><a href=\"https:\/\/edisi.co\" type=\"link\" id=\"edisi.co\">EDISI.CO, BATAM<\/a><\/strong>&#8211; Kejadian bermula saat warga tengah berjaga di masjid di jalan masuk ke Goba. Di sana mereka didatangi oleh belasan orang. Kelompok itu kemudian memaksa masuk ke wilayah yang dijaga warga, dan mengklaim di situ adalah wilayah kerja mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warga tetap bertahan dan berjaga, akhirnya mengalami intimidasi dan kekerasan. Tiga orang warga mengalami luka-luka dan belasan lainnya menjadi korban pemukulan. Salah satu korban mengalami luka di bagian pelipis akibat dipukul dengan helm; seorang lagi wajahnya lebam setelah dipukul dengan kayu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang lansia berusia 67 tahun, Siti Hawa, ikut menjadi korban. Ia mengalami patah tangan akibat menahan pukulan yang diarahkan ke warga yang ia lindungi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kejadian lainnya, masyarakat Pulau Rempang menjadi korban penyerangan oleh puluhan pegawai PT Makmur Elok Graha (MEG) pada 18 Desember 2024 dini hari. Penyerangan tersebar di tiga posko masyarakat, yakni Kampung Sembulang Hulu, Sembulang Pasir Merah dan <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/hukum\/manajemen-pt-meg-jawab-tudingan-soal-serang-penolak-psn-rempang-dengan-panah--1183209\" type=\"link\" id=\"https:\/\/www.tempo.co\/hukum\/manajemen-pt-meg-jawab-tudingan-soal-serang-penolak-psn-rempang-dengan-panah--1183209\">Sungai Buluh.<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Delapan warga Rempang menjadi korban luka akibat penyerangan ini. Empat warga mengalami luka sobek di bagian kepala; satu orang luka berat; satu warga terkena panah; satu warga mengalami patah tangan; dan satu warga luka ringan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1178\" height=\"728\" src=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/1000146663-01.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-17182\" srcset=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/1000146663-01.jpeg 1178w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/1000146663-01-768x475.jpeg 768w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/1000146663-01-1024x633.jpeg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1178px) 100vw, 1178px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sup>Warga Pulau Rempang saat berada di kawasan Goba, Kampung Sungai Buluh, Kelurahan Sembulang di Pulau Rempang pada Rabu (18\/9\/2024). Warga Pulau Rempang mengalami intimidasi dan menjadi korban tindak kekerasan dari belasan orang berpakaian preman-Edisi\/ist.<\/sup><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anggota Kelompok Aksi Sami berkumpul di Stilla. Menyimak suara radio yang letaknya di bagian paling atas rak buku di sisi ruangan. Berisi pengumuman tentang hasil pemungutan suara di parlemen tentang rencana Badan Sumber Daya Air dan Listrik Norwegia untuk pembangunan bendungan hidroelektrik di Sungai Alta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cHasil pemungutan suara di parlemen, 96 berbanding 31 suara. Parlemen memutuskan melanjutkan pembangunan sungai Alta. Pekerjaan mungkin akan dilanjutkan pada akhir musim gugur atau awal musim dingin.\u201d (Let the River Flow. Directed by Ole Gi\u00e6ver. Performances by Ella Marie H\u00e6tta Isaksen; Sofia Jannok; Gard Emil. Mer Film, 2023).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu anggota Kelompok Aksi Sami yang dari awal berdiri di samping rak buku itu, bergerak mematikan radio sambil menghela napas. Membuat senyap seisi ruangan. Keadaan yang menampakkan kondisi bertolakbelakang dari sebelumnya. Dari gairah saat berhasil menghentikan pembangunan jalan akses ke lokasi proyek bendungan hidroelektrik di Sungai Alta setahun lalu, menuju kenyataan bahwa Parlemen Norwegia tetap menyetujui pembangunan proyek yang akan mengancam eksistensi dan ruang hidup orang Sami di sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepada jurnalis yang menunggu di luar tempat pertemuan Kelompok Aksi Sami, Ester mengungkapkan kekecewaannya. Ia bingung dengan jalan pikir pemerintah yang ingin menghancurkan sungai yang telah menopang kehidupan masyarakat selama ribuan tahun lamanya, hanya atas nama kemajuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/edisi.co\/lewat-yasinan-solat-hajat-dan-nobar-warga-rempang-terus-bersuara-menolak-rencana-penggusuran\/\">Lewat Yasinan, Solat Hajat, dan Nobar, Warga Rempang terus Bersuara Menolak Rencana Penggusuran<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTentu saja ini merupakan kekecewaan besar. Kami Sami sepertinya dikutuk untuk mengeluh tapi kami tidak punya pilihan saat kami selalu dirobohkan. Apa itu kemajuan? Sungai menopang kita selama ribuan tahun. Haruskah benar-benar dihancurkan? Kita harus menjaga bumi untuk generasi mendatang. Kami tidak akan menyerah. Jika mereka membangun bendungan, itu akan menutupi mayatku.\u201d (Let River Flow. Directed by Ole Gi\u00e6ver. Performances by Ella Marie H\u00e6tta Isaksen; Sofia Jannok; Gard Emil. Mer Film, 2023).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ester, memilih tetap menggalang dukungan dengan mendatangi satu demi satu kediaman orang Sami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlahan, ia dapatkan kepercayaan. Mulai ada orang Sami yang mau ambil bagian dalam perjuangan mereka di Titik Nol. Bahwa orang Sami akan menghadang aparat dengan cara damai di sana. Ikhtiar mereka menjaga sungai dan ruang hidup yang telah kehidupan mereka ribuan tahun lamanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kamis, 15 Agustus 2024 petang<\/strong>, di depan Istana Merdeka, Aksi Kamisan ke-827 tengah berlangsung. Cuaca cerah, jalanan ramai, dengan tambahan riuh di dalam Istana Merdeka. Persiapan menyambut hari kemerdekaan yang tersisa dua hari lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Road barrier<\/em> dari plastik warna oranye melingkupi peserta Aksi Kamisan. Di bagian luarnya, petugas kepolisian berdiri. Mengarahkan pandang ke sebuah tugu setinggi 132 meter, Monumen Nasional (Monas). Peserta aksi berada di antara petugas dan Tugu Monas, membentuk lingkaran seukuran lapangan bola voli.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alat peraga berupa poster jadi pegangan peserta. Isinya adalah ragam pesan yang menggambarkan ikhtiar masyarakat Pulau Rempang. Lewat poster ini, warga Pulau Rempang menolak tergusur dari ruang hidup mereka; mengabari bahwa masyarakat terus berjuang untuk keadilan; menolak PSN Rempang Eco City yang diyakini akan merusak ruang hidup mereka; dan pesan-pesan senada lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa warga Pulau Rempang juga ada sana. Memegang poster dengan tulisan \u201cTakkan Melayu Hilang di Bumi\u201d dan poster berisi pesan perjuangan warga menjaga kampung dan ruang hidup mereka. Warga Rempang sempat berbincang dengan pegiat Aksi Kamisan, Maria Catarina Sumarsih. Mereka saling merangkul, meski baru pertama berkumpul. Terlihat sangat dekat meski baru berjumpa sesaat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1280\" height=\"960\" src=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/IMG-20240817-WA0093.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-17072\" srcset=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/IMG-20240817-WA0093.jpg 1280w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/IMG-20240817-WA0093-768x576.jpg 768w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/IMG-20240817-WA0093-1024x768.jpg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sup>Warga Pulau Rempang saat berada di Aksi Kamisan di depan Istana Negara pada Agustus 2024-Edisi\/ist.<\/sup><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warga Pulau Rempang berkesempatan menyampaikan refleksi. Isinya menjelaskan alasan mendasar mengapa mereka menolak penggusuran kampung mereka. Niat mempertahankan hak berupa ruang hidup untuk orangtua dan kerabat mereka di Pulau Rempang, menjadi dorongan warga terus melawan ketidakadilan yang mereka rasakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perwakilan warga Rempang juga bercerita bagaimana mereka tidak lagi mendapatkan perhatian dari pemerintah. Hak yang seharusnya mereka terima, sirna karena menolak rencana negara dalam rupa PSN Eco City Rempang, yang itu diyakini akan menggusur kampung yang mereka tinggali turun temurun selama ratusan tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dua hari menjelang Agustusan itu, warga Rempang menyampaikan makna kemerdekaan setelah masyarakat di sana terancam penggusuran. Kemerdekaan buat mereka adalah ketika kampung-kampung mereka dibebaskan dari ancaman penggusuran itu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahwa kampung mereka bukan semata tempat tinggal. Lebih dari itu, kampung-kampung di Pulau Rempang adalah identitas mereka sebagai Bangsa Melayu. Sehingga ikhtiar masyarakat Rempang mempertahan kampung mereka, adalah upaya menjaga eksistensi mereka sebagai orang Melayu di pesisir Batam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ruang perjuangan pada Aksi Kamisan ke-827 ini, adalah satu dari banyak <em>space<\/em> yang diupayakan warga Pulau Rempang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelumnya, bersama Tim Advokasi Solidaritas Nasional untuk Rempang, mereka lakukan aksi di depan Kedutaan Besar Tiongkok dan Kemenko Perekonomian; audiensi dengan Ombudsman RI; Komnas HAM; Komnas Perempuan; Kementerian ATR\/BPN; Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang saat ini dipecah menjadi dua kementerian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aksi, orasi dan audiensi yang mereka jalani ini, untuk mengabari bahwa mereka tidak diperlakukan secara adil. Bahwa intimidasi, teror dan kekerasan fisik telah mereka alami dan itu terus menghantui. Dalam kepayahan tersebut, gerak masyarakat Pulau Rempang yang berhasil sampai ke ibu kota, juga menandai bahwa perjuangan untuk menjaga kampung terus ada.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang-orang sami dan sejumlah aktivis lebih ramai di Titik Nol. Mereka membangun Lavvo dan memajang sejumlah atribut kampanye di sana, persis di dekat jalan utama yang sebelumnya telah mereka pasangi batu berukuran besar. Lavvo terus dibangun, seiring dengan kedatangan orang-orang Sami hingga menjelang malam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang anggota Kelompok Aksi Sami menyalakan unggun. Mereka berkumpul membentuk lingkaran, mengelilingi nyala api itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bias cahaya unggun menyapu wajah puluhan orang di sana, laki-laki dan perempuan yang melingkari sumber api. Asap dari sumber cahaya mengepul, naik menuju kegelapan malam di Titik Nol, menemani untai senandung dan suara kretek api memakan kayu bakar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/edisi.co\/benteng-terakhir-perlawanan-masyarakat-melayu-pulau-rempang-dari-ancaman-penggusuran\/\">Benteng Terakhir Perlawanan Masyarakat Melayu Pulau Rempang dari Ancaman Penggusuran<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah tiang kayu setinggi dua kali laki-laki dewasa, tegak di sisi kiri dan terikat bendera yang tidak berkibar. Bendera milik mendiang Mihkkal. Ester memasangnya sebelum malam datang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"748\" height=\"454\" src=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/titik-nol-ok.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18780\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sup>Masyarakat Sami saat berada di Titik Nol. (Let River Flow. Directed by Ole Gi\u00e6ver. Performances by Ella Marie H\u00e6tta Isaksen; Sofia Jannok; Gard Emil. Mer Film, 2023).<\/sup><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malam itu, tanggal 13 Januari 1981. Adalah babak akhir dari gerakan pembangkangan sipil Kelompok Aksi Sami. Ketika cahaya putih dari iringan armada ratusan polisi mendekat, meredupkan nyala dan cahaya unggun di sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang-orang Sami menghadapi derap sepatu dan suara instruksi polisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKalian memblokir akses jalan dan menghalangi pembangunan yang sah. Aku perintahkan kalian meninggalkan daerah ini, jika tidak mematuhi perintah ini, kalian melakukan pelanggaran yang bisa dihukum. Kalian punya waktu dua menit untuk menyingkir dari jalan.\u201d (Let &nbsp;the River Flow. Directed by Ole Gi\u00e6ver. Performances by Ella Marie H\u00e6tta Isaksen; Sofia Jannok; Gard Emil. Mer Film, 2023).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan pelantang, seorang petugas mengarahkan anggotanya bergerak mengangkat satu demi satu orang Sami yang melakukan aksi damai di sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa wanita bereaksi, dengan balutan pakaian adat mereka bergerak membentuk pagar manusia. Ikhtiar untuk menghalangi gerak polisi. Mereka berteriak. Merafalkan kata <em>\u201cSungai tetap Mengalir\u201d<\/em> dan <em>\u201cKekuatan Sami\u201d<\/em> bersama dengan terangkatnya satu demi satu mereka dari posisi semula, ke dalam truk-truk petugas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malam itu, ada sekitar 800 anggota Kelompok Aksi Sami yang ambil bagian di Titik Nol. Dari jumlah itu, 150 orang berada di depan tembok es dengan tenda-tenda mereka, 70 di antaranya merantai diri mereka pada tembok es yang menjadi blokade. Sebanyak 600 polisi bekerja sepanjang hari menangkap masa aksi yang tergabung dalam Kelompok Aksi Sami. (William Lawrence, 2011).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Petugas mengumpulkan denda dari Kelompok Aksi Sami yang ditangkap malam itu, mencapai 1.700.000 Kroner (USD 350.000). Setiap orang yang ditangkap dikenai denda sebesar 3.000 Kroner. (Parmann, dikutip dari Manggala Ismanto, 2017. Hal. 132).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun tidak berhasil membatalkan Badan Sumber Daya Air dan Listrik Norwegia membangun bendungan hidroelektrik, aksi pembangkangan sipil yang dilakukan Kelompok Aksi Sami tetap mampu menjadikan Suku Sami lebih berdaya. Pembangkangan sipil Kelompok Aksi Sami ini menjadi embrio lahirnya Komisi Hak Asasi Sami <em>(Sami Rights Commission)<\/em> pada 1981; Sami Act pada 1987; terjadi amandemen konstitusi Norwegia pada 1988 dan pendirian parlemen Sami pada 1989. Pembangkangan sosial Suku Sami juga menghasilkan Perjanjian Finnmark <em>(Finnmark Act)<\/em>. (Manggala Ismanto, 2017. Hal. 132).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warga Sami memang kalah dalam <em>\u2018pertempuran\u2019<\/em>, tetapi mereka memenangkan kasusnya. Bahwa orang Sami berhasil menjalankan mandat utama dari pembentukan Komisi Hak Asasi Sami, yakni mempertanyakan kembali mengenai hak masyarakat Sami terhadap tanah dan air. Hasilnya terbentuklah <em>Sami Act<\/em> pada pada 1987 yang tujuan utamanya untuk membela kepentingan orang Sami. (Brodertstad, dikutip dalam Manggala Ismanto, 2017. Hal. 132).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"711\" height=\"437\" src=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/titik-nol-ujung.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18781\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sup>Masyarakat Sami saat berada di Titik Nol. (Let River Flow. Directed by Ole Gi\u00e6ver. Performances by Ella Marie H\u00e6tta Isaksen; Sofia Jannok; Gard Emil. Mer Film, 2023).<\/sup><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemudian, pembangkangan sipil oleh masyarakat Sami juga berhasil mengubah konstitusi Norwegia. Hasil dari amandemen konstitusi Norwegia dan pendirian parlemen Sami itu, disahkannya pasal 110a tentang tanggung jawab pemerintah untuk mempertahankan serta mengijinkan <em>\u201cdevelopment of Sami Culture\u201d<\/em>. Dengan pasal yang bersumber dari usulan parlemen Sami ini, masyarakat Sami dapat bernegosiasi dengan pemerintah pusat mengenai otonomi sumber daya dan budayanya. Salah satunya adalah keberhasilan inisiasi penggunaan Bahasa Sami. (Brodertstad, dikutip dalam Manggala Ismanto, 2017. Hal. 132).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa yang telah dialami masyarakat Suku Sami, rasanya juga tengah dijalani oleh masyarakat Pulau Rempang saat ini. Bagaimana keadaan antara tahun 1979 sampai 1981 di belahan bumi Utara di Norwegia, seperti kembali terulang saat ini di Pulau Rempang yang letaknya di belahan bumi bagian Timur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suku Sami berdaya melalui lahirnya Komisi Hak Asasi Sami <em>(Sami Rights Commission)<\/em> pada 1981; <em>Sami Act<\/em> pada 1987; mendorong terjadi amandemen konstitusi Norwegia pada 1988 dan pendirian parlemen Sami pada 1989; juga menghasilkan Perjanjian Finnmark <em>(Finnmark Act)<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/edisi.co\/tiga-alasan-negara-hadir-dalam-rupa-antagonis-pada-pengembangan-pulau-rempang\/\">Tiga Alasan Negara Hadir dalam Rupa Antagonis pada Pengembangan Pulau Rempang<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demikian juga dengan masyarakat Rempang yang terus bertahan dengan daya yang yang mereka miliki. Mereka bersama-sama membentuk Organisasi Rakyat (OR). Organisasi rakyat ini menjadi <em>space<\/em> bermakna bagi masyarakat yang tengah berjuang. Medium konsolidasi, peningkatan kualifikasi, dan langkah memulai gerakan menjaga kampung dan ruang hidup mereka di sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warga Pulau Rempang juga terhubung dengan sejumlah lembaga yang mendukung ikhtiar mereka mencari dan menegakkan keadilan. Komunitas yang memiliki kapasitas dalam upaya pendampingan hukum, peningkatan kapasitas manusia. Sama seperti yang dulu juga dijalani masyarakat Suku Sami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk diketahui, dalam <a href=\"https:\/\/edisi.co\/buku-putih-valuasi-kerusakan-rempang-eco-city-wajah-pembangunan-yang-merampas-ruang-hidup-masyarakat\/\" type=\"link\" id=\"https:\/\/edisi.co\/buku-putih-valuasi-kerusakan-rempang-eco-city-wajah-pembangunan-yang-merampas-ruang-hidup-masyarakat\/\">pemberitaan sebelumnya<\/a>, Tim Solidaritas Nasional untuk Rempang, melalui Trend Asia (TA) dan Transparency International Indonesia (TII) dalam riset mereka berjudul <strong><em>\u201cBuku Putih Kerusakan Rempang Eco City.\u201d<\/em><\/strong> memuat perhitungan potensi kerugian lingkungan sangat besar yang dialami masyarakat Pulau Rempang jika proyek eco city Rempang berjalan. Potensi nilai kerugian lingkungan itu mencapai Rp109 juta\/rumah tangga\/bulan. Nilai ini sangat besar, sehingga mencapai tiga kali lipat dari pendapatan warga. Warga dihadapkan kemungkinan buruk berlapis jika proyek ini berjalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, tim peneliti juga menemukan fakta bahwa perkiraan nilai (valuasi) ekonomi terhadap pendapatan warga Rempang, menunjukkan nilai yang sangat tinggi dibandingkan klaim pemerintah. Hasil valuasi menunjukkan rata-rata pendapatan masyarakat adalah Rp32,77 juta\/rumah tangga\/bulan. Sementara klaim pemerintah pendapatan warga sebesar Rp3 juta per bulan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2000\" height=\"1279\" src=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/P1090433-2000x1279.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-16610\" srcset=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/P1090433-2000x1279.jpg 2000w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/P1090433-768x491.jpg 768w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/P1090433-1536x982.jpg 1536w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/P1090433-2048x1309.jpg 2048w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/P1090433-1024x655.jpg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 2000px) 100vw, 2000px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sup>Warga Pulau Rempang membentangkan spanduk berisi pesan penolakan penggusuran\/relokasi di perairan Rempang-Edisi\/bbi.<\/sup><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan hasil valuasi ekonomi seperti tertera di atas, riset ini menegaskan bahwa biaya sosial-ekologis proyek jauh lebih besar dibanding manfaat ekonominya. Dengan kata lain proyek ini akan menyebabkan lebih banyak kerusakan dari sisi sosial dan lingkungan dibanding manfaat ekonomi yang dihadirkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sehingga, Tim Solidaritas Nasional untuk Rempang merekomendasikan untuk menghentikan dan membatalkan proyek Rempang Eco City seutuhnya. Demi memastikan keberlanjutan ruang hidup, ekosistem, dan keadilan sosial bagi masyarakat Pulau Rempang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alih-alih menghadirkan kesejahteraan, tim peneliti menilai Rempang Eco City memperlihatkan wajah pembangunan yang merampas ruang hidup dan melemahkan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malam itu, ada sekitar 800 anggota Kelompok Aksi Sami yang ambil bagian di Titik Nol.<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":17536,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[51,1508],"tags":[47,5121,63,281,48,5891,46,5889,5890],"class_list":["post-18755","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-batam","category-internasional","tag-batam","tag-bendungan","tag-budaya","tag-indonesia","tag-kepri","tag-norwegia","tag-pesisir","tag-sami","tag-sapmi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.1.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3) - Edisi<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Kejadian bermula saat warga tengah berjaga di masjid di jalan masuk ke Goba. Di sana mereka didatangi oleh belasan orang\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3) - Edisi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kejadian bermula saat warga tengah berjaga di masjid di jalan masuk ke Goba. Di sana mereka didatangi oleh belasan orang\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Edisi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Edisico-102666665780112\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-10-26T08:24:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-10-26T08:25:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"edisinya admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@edisi_co\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@edisi_co\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"edisinya admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/\"},\"author\":{\"name\":\"edisinya admin\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/a6e4ffd158e82e95a42589b016a50281\"},\"headline\":\"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3)\",\"datePublished\":\"2026-10-26T08:24:29+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-26T08:25:55+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/\"},\"wordCount\":2155,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg\",\"keywords\":[\"batam\",\"Bendungan\",\"budaya\",\"Indonesia\",\"kepri\",\"Norwegia\",\"pesisir\",\"Sami\",\"Sapmi\"],\"articleSection\":[\"BATAM\",\"INTERNASIONAL\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/\",\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/\",\"name\":\"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3) - Edisi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-10-26T08:24:29+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-26T08:25:55+00:00\",\"description\":\"Kejadian bermula saat warga tengah berjaga di masjid di jalan masuk ke Goba. Di sana mereka didatangi oleh belasan orang\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg\",\"width\":2000,\"height\":1200,\"caption\":\"Warga Pulau Rempang menggelar orasi usai kegiatan solawat dan doa bersama sempena perayaan hari besar umat Islam, Isra' Miraj 1446 Hijriyah pada Kamis (30\/1\/2025)-Edisi\/bbi.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/edisi.co\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#website\",\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/\",\"name\":\"Edisi\",\"description\":\"Energi Informasi\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/edisi.co\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#organization\",\"name\":\"Edisi\",\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/cropped-LOGO-EDISI-1-1.png?fit=512%2C512&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/cropped-LOGO-EDISI-1-1.png?fit=512%2C512&ssl=1\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"Edisi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/Edisico-102666665780112\",\"https:\/\/x.com\/edisi_co\",\"https:\/\/www.instagram.com\/edisi.co\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/a6e4ffd158e82e95a42589b016a50281\",\"name\":\"edisinya admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f42250de46bee3dba7627695487e6ba2fb209a25e130e2ac34b914a20ac1691b?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f42250de46bee3dba7627695487e6ba2fb209a25e130e2ac34b914a20ac1691b?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"edisinya admin\"},\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/author\/punyaedisi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3) - Edisi","description":"Kejadian bermula saat warga tengah berjaga di masjid di jalan masuk ke Goba. Di sana mereka didatangi oleh belasan orang","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3) - Edisi","og_description":"Kejadian bermula saat warga tengah berjaga di masjid di jalan masuk ke Goba. Di sana mereka didatangi oleh belasan orang","og_url":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/","og_site_name":"Edisi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Edisico-102666665780112","article_published_time":"2026-10-26T08:24:29+00:00","article_modified_time":"2026-10-26T08:25:55+00:00","og_image":[{"width":2000,"height":1200,"url":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"edisinya admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@edisi_co","twitter_site":"@edisi_co","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"edisinya admin","Estimasi waktu membaca":"14 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/"},"author":{"name":"edisinya admin","@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/a6e4ffd158e82e95a42589b016a50281"},"headline":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3)","datePublished":"2026-10-26T08:24:29+00:00","dateModified":"2026-10-26T08:25:55+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/"},"wordCount":2155,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg","keywords":["batam","Bendungan","budaya","Indonesia","kepri","Norwegia","pesisir","Sami","Sapmi"],"articleSection":["BATAM","INTERNASIONAL"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/","url":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/","name":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3) - Edisi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg","datePublished":"2026-10-26T08:24:29+00:00","dateModified":"2026-10-26T08:25:55+00:00","description":"Kejadian bermula saat warga tengah berjaga di masjid di jalan masuk ke Goba. Di sana mereka didatangi oleh belasan orang","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#primaryimage","url":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg","contentUrl":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-30-at-20.20.28-scaled-e1738243919902.jpeg","width":2000,"height":1200,"caption":"Warga Pulau Rempang menggelar orasi usai kegiatan solawat dan doa bersama sempena perayaan hari besar umat Islam, Isra' Miraj 1446 Hijriyah pada Kamis (30\/1\/2025)-Edisi\/bbi."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-3\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/edisi.co\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (3)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/edisi.co\/#website","url":"https:\/\/edisi.co\/","name":"Edisi","description":"Energi Informasi","publisher":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/edisi.co\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/edisi.co\/#organization","name":"Edisi","url":"https:\/\/edisi.co\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/i0.wp.com\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/cropped-LOGO-EDISI-1-1.png?fit=512%2C512&ssl=1","contentUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/cropped-LOGO-EDISI-1-1.png?fit=512%2C512&ssl=1","width":512,"height":512,"caption":"Edisi"},"image":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Edisico-102666665780112","https:\/\/x.com\/edisi_co","https:\/\/www.instagram.com\/edisi.co\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/a6e4ffd158e82e95a42589b016a50281","name":"edisinya admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f42250de46bee3dba7627695487e6ba2fb209a25e130e2ac34b914a20ac1691b?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f42250de46bee3dba7627695487e6ba2fb209a25e130e2ac34b914a20ac1691b?s=96&d=mm&r=g","caption":"edisinya admin"},"url":"https:\/\/edisi.co\/author\/punyaedisi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18755","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18755"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18755\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18794,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18755\/revisions\/18794"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17536"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18755"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18755"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18755"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}