{"id":18752,"date":"2026-10-25T15:10:55","date_gmt":"2026-10-25T08:10:55","guid":{"rendered":"https:\/\/edisi.co\/?p=18752"},"modified":"2026-10-25T15:10:56","modified_gmt":"2026-10-25T08:10:56","slug":"biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/","title":{"rendered":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><em>Orang Sami berhasil menjalankan mandat utama dari pembentukan Komisi Hak Asasi Sami, yakni mempertanyakan kembali mengenai hak masyarakat Sami terhadap tanah dan air. Hasilnya terbentuklah<\/em> <strong><em>Sami Act<\/em><\/strong> <em>pada pada 1987 yang tujuan utamanya untuk membela kepentingan orang Sami. (Brodertstad, dikutip dalam Manggala Ismanto, 2017. Hal. 132).<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><em>Masyarakat Pulau Rempang terus berjuang dengan daya yang mereka miliki. Bersama-sama membentuk Organisasi Rakyat (OR). Menjadi<\/em> <strong><em>space<\/em><\/strong> <em>bermakna bagi masyarakat. Medium konsolidasi; peningkatan kualifikasi; dan langkah memulai gerak menjaga kampung dan ruang hidup mereka di sana.<\/em><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><a href=\"https:\/\/edisi.co\" type=\"link\" id=\"edisi.co\">EDISI.CO, BATAM<\/a><\/strong>&#8211; Bias cahaya menyapu wajah orang-orang yang melingkari sumber api. Asap dari unggun itu mengepul, naik menuju kegelapan malam di Titik Nol, bersama untai senandung dan suara kretek api memakan kayu bakar.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah tiang kayu setinggi dua kali laki-laki dewasa, terpacak di sisi kiri mereka, di bagian atas tiang terikat sebuah bendera yang tidak berkibar.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>13 Januari 1981 malam.<\/strong> Cahaya putih dari iringan armada ratusan polisi terus mendekat. Berhenti di jarak sekitar 10 langkah dari posisi mereka. Deru mesin lenyap, bersambut derap sepatu dan suara instruksi seorang petugas.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAku perintahkan kalian meninggalkan daerah ini, jika tidak mematuhi perintah ini, kalian melakukan pelanggaran yang bisa dihukum.\u201d (Let the River Flow. Directed by Ole Gi\u00e6ver. Performances by Ella Marie H\u00e6tta Isaksen; Sofia Jannok; Gard Emil. Mer Film, 2023).<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keheningan terjadi sesaat. Lalu, petugas bergerak mengangkat satu demi satu masyarakat adat Sami yang tergabung dalam Kelompok Aksi Sami.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para wanita bereaksi, dengan pakaian adat Suku Sami yang dikenakan, mereka bergerak membentuk pagar manusia. Ikhtiar untuk menghalangi gerak petugas. Wanita muda dan para ibu berteriak. Merafalkan kata \u201cSungai tetap Mengalir\u201d dan \u201cKekuatan Sami.\u201d<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ester Isaksen, satu dari banyak wanita Anggota Kelompok Aksi Sami, juga berjuang malam itu. Instruksinya mengemuka dan menggerakkan. Sampai akhirnya ia tak lagi dapat bersuara, ditangkap dan dibawa menuju kegelapan bak truk petugas.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"722\" height=\"450\" src=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ESTER-DIANGKUT.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18766\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sup>Ester Isaksen saat ditangkap petugas. (Tangkapan layar dari Let the River Flow. Directed by Ole Gi\u00e6ver. Performances by Ella Marie H\u00e6tta Isaksen; Sofia Jannok; Gard Emil. Mer Film, 2023).<\/sup><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suku Sami adalah etnis yang tinggal di kawasan utara negara-negara Skandinavia. Mereka secara tradisional menempati teritori yang disebut Sapmi. Sapmi meliputi kawasan utara Norwegia; Swedia; Finlandia; dan juga Kola Peninsula di Rusia. Meskipun dipisahkan batas geografis empat negara, orang-orang Sami tetap memiliki kesatuan dan persamaan budaya. (Arnadottir, dikutip dalam Manggala Ismanto, 2017. Hal. 129).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/edisi.co\/warga-rempang-gelar-salat-hajat-memohon-perlindungan-dan-keadilan-untuk-masyarakat\/\">Warga Rempang gelar Salat Hajat: Memohon Perlindungan dan Keadilan untuk Masyarakat<\/a><\/strong><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berburu, nelayan dan mengembala Rusa Kutub adalah aktivitas utama masyarakat Sami dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dari ketiga aktivitas tersebut, menjadi penggembala Rusa Kutub adalah ikon budaya masyarakat Sami. Mereka mempraktikkan gaya hidup semi-nomaden, untuk memindahkan Rusa di antara pegunungan dan pantai sesuai dengan musim. (Arnadottir, dikutip dalam Manggala Ismanto, 2017. Hal. 129).<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah jalan di Desa Stilla, di pinggir Kota Alta, Norwegia, berjarak sekitar 36 Kilometer (KM) dari tepi Sungai Alta, di situlah letak Titik Nol. Titik Nol ini adalah tempat orang-orang Suku Sami membangun gerakan pembangkangan sipil. Upaya penolakan atas rencana Badan Sumber Daya Air dan Listrik Norwegia, yang akan membangun bendungan hidroelektrik. Mereka dikenal dengan Kelompok Aksi Sami.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembangkangan sipil oleh kelompok Aksi Sami berlangsung dari tahun 1979 sampai 1981. Tidak hanya sekedar berjuang menolak rencana pembangunan bendungan hidroelektrik, Kelompok Aksi Sami bergerak untuk memutus rantai diskriminasi; menjaga identitas etnis dan budaya; juga ruang hidup mereka di sana.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kelompok Aksi Sami mendirikan tenda-tenda tradisional, memblokade jalan; tinggal dan beraktivitas setiap hari Titik Nol. Aktivitas itu dijalani dengan pakaian tradisional Suku Sami, Gakti.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembangkangan sipil etnis Sami adalah reaksi dari aksi berulang yang dilakukan pemerintah terhadap orang Sami di Norwegia. Pada 1852, orang-orang Sami melakukan pemberontakan di kawasan Koaukatoni di Utara Norwegia. Pemberontakan itu dilakukan sebagai sikap orang Sami menolak diskriminasi dan penjajahan. (Muus, dikutip dalam Manggala Ismanto, 2017. Hal. 129).<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak itu, masyarakat Sami diperlakukan tidak lagi setara di Norwegia.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemerintah Norwegia membuat kebijakan asimilasi yang memarjinalkan orang Sami. Bentuknya adalah kebijakan yang dikenal dengan <em>\u201cfornorsking\u201d<\/em> atau <em>\u201cnorwegianization\u201d<\/em> pada era 1879-1940. (Manggala Ismanto, 2017. Hal. 130).<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu praktek <em>\u201cfornorsking\u201d<\/em> atau <em>\u201cnorwegianization\u201d<\/em> yang terjadi sebelum tahun 1970 adalah pelarangan untuk menggunakan Bahasa Sami di manapun. Sebaliknya, masyarakat Sami harus menggunakan bahasa Norwegia di ranah publik. (Zashikhina, dikutip dalam Manggala Ismanto, 2017. Hal. 130).<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebijakan lainnya, orang Sami yang tidak menguasai bahasa Norwegia, baik membaca atau menulis, tidak diperbolehkan memiliki bentuk bisnis atau kepemilikan atas properti. Bahkan, memiliki nama dengan karakter bahasa Sami saja, bisa menjadi masalah terkait hak kepemilikan properti. (Muus, dikutip dalam Manggala Ismanto, 2017. Hal. 130).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sisi Utara di pertengahan jalan masuk Kampung Pantai Melayu, angin Selatan berhembus dari garis laut kampung, mengimbangi siang yang terik. Panas terasa lekat di pukul 14.00 WIB.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jumat, 21 Agustus 2026<\/strong>, berjarak sekitar tiga langkah orang dewasa dari bibir jalan utama ke Kampung Pantai Melayu di Pulau Rempang, tenda sederhana berdiri. Atap terpal merah tegak oleh tiang penyangga berupa balok besi berukuran kecil.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jalan utama ke kampung persis ada di sisi depan tenda. Di bagian belakangnya, berdiri papan plang yang dipasang petugas. Dua spanduk ukuran tiga kali satu setengah meter, terpasang di sisi belakang tenda, berisi tulisan \u201cKami Mendukung Sekolah Merah Putih, Tapi Jangan Rampas Tanah Adat Ulayat di Rempang\u201d dan &#8220;Jangan Rampas Masa Depan Anak Cucu Kami&#8221;.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setidaknya terlihat 16 laki-laki yang mayoritas memakai seragam cokelat institusi Polri, berdiri persis di plang bertuliskan Tanah Hak Pengelolaan (HPL) BP Batam, mereka membelakangi tenda. Ada juga yang duduk di semak-semak di sekitar lokasi, namun masih terlihat oleh warga yang berkegiatan di tenda.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kaum ibu memenuhi ruang utama tenda. Duduk di atas tikar. Ada yang menggendong anak. Ada juga yang membiarkan anak-anak mereka bermain di sekitar kawasan.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siang itu, ibu-ibu Kampung Pantai Melayu tengah melaksanakan kegiatan rutin seminggu sekali, berupa pembacaan Surah Yasin dan doa bersama.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1600\" height=\"1200\" src=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-03-at-16.52.28.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18767\" srcset=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-03-at-16.52.28.jpeg 1600w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-03-at-16.52.28-768x576.jpeg 768w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-03-at-16.52.28-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-03-at-16.52.28-1024x768.jpeg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sup>Ibu-ibu Kampung Pantai Melayu tengah melaksanakan kegiatan rutin seminggu sekali, berupa pembacaan Surah Yasin dan doa bersama. (Dokumentasi Warga).<\/sup><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak merasa terancam penggusuran lahan kampung mereka pada 13 Agustus 2026, warga Kampung Pantai Melayu mengalihkan tempat Yasinan dan doa bersama mereka ke sana. Bahwa mereka masih terus berikhtiar untuk menjaga eksistensi kampung dan ruang hidup mereka. Sebelumnya, warga menggelar Yasinan dan doa di rumah-rumah warga secara bergiliran.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warga terus menyerukan tidak menolak pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di kawasan yang berbatasan dengan kampung mereka itu. Namun masyarakat Kampung Pantai Melayu menolak perampasan atas tanah di kampung mereka. Ruang hidup yang telah menjadi tempat mereka tumbuh turun temurun sejak ratusan tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari jalan berbukit di sisi kiri kediaman Ester Isaksen, sebuah sedan berwarna biru polos mendekat. Kemudian berhenti. Mengejutkan Ester, ayah dan ibunya di sana. Dengan Gakti, anggota Kelompok Aksi Sami yang juga kerabatnya, Mihkkal, muncul dan mendekati mereka. Gakti adalah pakaian adat dengan warna dasar biru dan merah. Serta sulaman di bagian ujung lengan dan kerah lehernya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/edisi.co\/nobel-perdamaian-untuk-navi-pillay-menjadi-bentuk-dukungan-terhadap-tatanan-hukum-global-yang-tengah-mendapat-tekanan\/\">Nobel Perdamaian untuk Navi Pillay menjadi bentuk dukungan terhadap tatanan hukum global yang tengah mendapat\u00a0tekanan<\/a><\/strong><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumah keluarga Ester berada di perbukitan, yang kiri dan kanannya ditumbuhi ilalang. Laut terhampar dan pegunungan berdiri membendung perairan di seberang rumahnya.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mihkkal menyapa mereka. Tidak lama berbincang, sambil memasukkan barang-barang milik Ester ke mobil, keduanya berlalu.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ester adalah guru sekolah tingkat dasar di Alta. Sebelum tergabung dalam Kelompok Aksi Sami, ia menyembunyikan identitasnya sebagai orang Sami, juga ketika ia mengajar. Bersikap pasif, dan hanya jadi pendengar ketika orang-orang di Alta membicarakan Suku Sami. Orang Sami dianggap warga kelas dua, di bawah orang Norwegia pada umumnya. Mereka adalah pekerja kasar dengan segala kerendahannya.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari itu, Ester bersiap untuk pergi mengajar ke Alta.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keduanya melintasi savana berkabut. Jalan lurus dengan rerumputan di kiri dan kanan, mengantarkan mereka ke Titik Nol. Mobil berhenti di sisi kanan jalan, tidak jauh dari batu-batu besar yang terpacak di tengah jalan utama kawasan ini.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Batu-batu ini ditulisi <em>\u201c<\/em><em>ELVA SKAL LEVE!<\/em><em>\u201d<\/em> (Biarkan Sungai Mengalir). Ada tiga spanduk berukuran tak seragam terpasang di bagian belakangnya. Beberapa pemuda berbincang, berjaga di pos, juga menata letak poster kampanye mereka di sana.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah kedatangan pertama Ester di Titik Nol. Mihkkal yang seharusnya mengantar Ester ke apartemennya di Alta, lebih dulu membawanya ke sini. Di Titik Nol, Ester mengitari banyak Lavvo (tenda-tenda tradisional Suku Sami). Ia juga naik jembatan kayu sederhana yang terbangun di atas aliran sungai kecil di sana.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anggota Kelompok Aksi Sami menyambutnya dengan hangat. Ia bahkan sudah dikenali oleh beberapa orang di sana lewat cerita Mihkkal.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Titik Nol adalah dimensi berbeda buat Ester. Berbanding terbalik dengan kehidupannya sebagai guru di Alta.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"738\" height=\"457\" src=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/TITIK-NOL.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18761\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sup>Titik Nol. Beberapa pemuda berbincang, berjaga di pos, juga menata letak poster kampanye mereka di sana. (Tangkapan layar dari Let the River Flow. Directed by Ole Gi\u00e6ver. Performances by Ella Marie H\u00e6tta Isaksen; Sofia Jannok; Gard Emil. Mer Film, 2023).<\/sup><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak tertua dari dua bersaudara ini tidak banyak bicara. Namun, interaksi langsung itu menarik Ester lebih jauh. Membuatnya kembali datang, berkali-kali setelahnya.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Alta, Ester menyaksikan diskriminasi itu. Ia melihat Mihkkal diganggu hanya karena memakai Gakti; muridnya dijauhi teman-teman sekelas karena sepatu boot khas orang Sami yang ia kenakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di kampung yang berada dalam administrasi Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang di Pulau Rempang ini, 112 keluarga hidup berdampingan. Sebagian warganya menyediakan berbagai jasa untuk kawasan pantai wisata di sana. Ada warga yang berkegiatan sebagai petani dan nelayan.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kapal-kapal angkutan pariwisata melayani warga yang datang di setiap akhir pekan. Masyarakat Kampung Pantai Melayu berdagang; menyewakan tikar; dan menyewakan pelampung untuk berenang. Aktivitas ini sudah berlangsung lama, sejak puluhan tahun lalu.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kamsiah, adalah satu dari banyak pedagang di sana.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rutinitas itu berubah sejak prahara akibat rencana proyek eco city di Pulau Rempang, ditambah lagi adanya pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih yang diyakini mengancam eksistensi kampungnya, membuat Kamsiah lebih sering turun ke jalan. Bergerak bersama warga menjaga kampungnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Belasan kertas dengan gambar wajah, binatang, dan pemandangan terpajang di dinding sebuah ruangan. Seorang laki-laki dari kelompok aksi Sami, duduk di meja tidak jauh dari dinding berisi gambar-gambar itu, mendengarkan anggota Kelompok Aksi Sami lain tengah bicara.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka merencanakan aksi di Oslo, ibu kota Norwegia. Berjarak cukup jauh dari Alta.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mihkkal duduk di kursi sambil memegang gelas, Ester di depannya. Menyimak rencana aksi mogok makan di Oslo. Sebuah gerakan untuk menuntut parlemen dan pemerintah menghentikan rencana pembangunan bendungan hidroelektrik di Sungai Alta-Kautokeino, sampai hak Sami diklarifikasi secara hukum. Tidak ada canda dan tawa di sana.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-7387b849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Titik Nol, orang Sami terus bergerak mempertahankan kampung dan sungai mereka, dengan cara memblokade jalan menuju lokasi bendungan di Sungai Alta-Kautokeino. Upaya itu dirasa kurang, apalagi gerakan mereka dinilai ilegal dan pihak berwajib kerap datang untuk membubarkan paksa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ester bersiap ambil bagian dalam gerakan Kelompok Aksi Sami ke Oslo. Ia mendapat dukungan dari neneknya yang antusias menyiapkan Gakti untuk dipakai Ester dalam aksi mereka nanti. Lansia itu menjahit sambil bercerita, menuturkan bahwa ada banyak orang Sami di Oslo. Termasuk anak kandungnya yang memilih menetap di sana sejak 1944. Inger namanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ester juga mendapatkan cerita tentang orang Sami dari ibunya. Bagaimana pengalaman masa kecil ibunya yang mendapat perundungan, karena mereka orang Sami. Mereka dipaksa untuk bisa Bahasa Norwegia agar terhindar dari hukuman dipukul dengan penggaris di asrama semasa sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengalaman menjadi korban diskriminasi, membuat ibunya meyakini orang Sami memang tidak memiliki tempat setara dengan masyarakat Norwegia. Ia bahkan tidak lagi menaruh harapan atas perjuangan orang Sami, termasuk yang tengah dijalankan Ester dan Kelompok Aksi Sami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTidak ada masa depan untuk Sami. Perjuangan itu sudah lama hilang.\u201d (Let River Flow. Directed by Ole Gi\u00e6ver. Performances by Ella Marie H\u00e6tta Isaksen; Sofia Jannok; Gard Emil. Mer Film, 2023)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ester diam. Memandang air sungai &nbsp;bergerak tenang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/edisi.co\/jaga-kampung-dan-ruang-hidup-warga-pulau-rempang-terus-ditekan\/\">Jaga Kampung dan Ruang Hidup, Warga Pulau Rempang Terus Ditekan<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left wp-block-paragraph\">Apa yang disampaikan ibunya, menerangkan sikap tak senang ia saat melihat Mihkkal memakai Gakti ketika menjemputnya. Ia juga menuduh Mihkkal mempengaruhi Ester hingga terlibat dalam perjuangan Kelompok Aksi Sami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kamis, 13 Agustus 2026<\/strong>, menjadi hari yang cukup berat buat Kamsiah; warga Kampung Pantai Melayu dan warga dari kampung-kampung lain di Pulau Rempang. Mereka dihadapkan dengan aparat gabungan yang memasang plang BP Batam sampai masuk ke dalam lahan warga Kampung Pantai Melayu, menurut keyakinan warga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warga bereaksi dengan memprotes pemasangan plang yang dirasa tidak sesuai dengan prinsip keadilan itu. Warga menilai mereka tidak diperlakukan secara adil, padahal selama ini sudah berupaya menjelaskan bahwa ada hak mereka di sana. Namun ikhtiar mereka tidak pernah didengar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kamsiah mengaku sempat sampai tidak sadarkan diri saat berupaya mempertahankan hak mereka di sana. Segala daya ia kerahkan, bersuara mendesak tim terpadu mencabut plang yang menurut warga Kampung Pantai Melayu telah jauh mencaplok tanah warga. Kamsiah juga mencoba menghentikan alat berat yang bekerja di sana, namun terhalang oleh petugas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah ketidakberdayaan itu, ia rapalkan doa, hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Tangis warga lain, khususnya kaum ibu, menyertai evakuasi Kamsiah kembali ke rumahnya di Kampung Pantai Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelah tangannya terkilir; luka gores dan rasa nyeri di sekujur tubuhnya bertahan beberapa hari. Membuatnya terpaksa beristirahat, belum bisa membersamai perjuangan warga Pulau Rempang lainnya di sana.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"496\" height=\"288\" src=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/REMPANG.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18665\" style=\"width:687px;height:auto\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sup>Warga Kampung Pantai Melayu Pulau Rempang melakukan protes atas pemasangan plang yang dinilai masuk dalam batas lahan milik warga. (edisi.co\/ist).<\/sup><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk diketahui, Pemerintah melalui Badan Pengusahaan (BP) Batam menyiapkan kawasan yang berbatasan dengan Kampung Pantai Melayu di Pulau Rempang ini untuk Sekolah Terintegrasi Merah Putih. Berdasarkan siaran pers BP Batam Nomor: SP\u2014 212&nbsp;&nbsp; \/A6.3\/9\/2026, pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih ini dilaksanakan oleh Yayasan Sekolah Merah Putih. Proses <em>groundbreaking<\/em> dan pemasangan tiang pancang perdana telah dilaksanakan pada Kamis (24\/9\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam banyak kesempatan, Warga Pulau Rempang, khususnya masyarakat dari Kampung Pantai Melayu, menyatakan tidak menolak pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih. Warga menolak cara-cara yang bertentangan dengan prinsip keadilan dalam pembangunannya.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em><kbd>Baca lanjutannya di \"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (2)\"<\/kbd><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Sami berhasil menjalankan mandat utama dari pembentukan Komisi Hak Asasi Sami, yakni mempertanyakan kembali<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":17143,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[51],"tags":[47,281,1392,5891,2125,5889,5890],"class_list":["post-18752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-batam","tag-batam","tag-indonesia","tag-melayu","tag-norwegia","tag-rempang","tag-sami","tag-sapmi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.1.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1) - Edisi<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Bias cahaya menyapu wajah orang-orang yang melingkari sumber api. Asap dari unggun itu mengepul, naik menuju kegelapan malam\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1) - Edisi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bias cahaya menyapu wajah orang-orang yang melingkari sumber api. Asap dari unggun itu mengepul, naik menuju kegelapan malam\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Edisi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Edisico-102666665780112\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-10-25T08:10:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-10-25T08:10:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1614\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"edisinya admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@edisi_co\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@edisi_co\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"edisinya admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/\"},\"author\":{\"name\":\"edisinya admin\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/a6e4ffd158e82e95a42589b016a50281\"},\"headline\":\"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1)\",\"datePublished\":\"2026-10-25T08:10:55+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-25T08:10:56+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/\"},\"wordCount\":2213,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"batam\",\"Indonesia\",\"MELAYU\",\"Norwegia\",\"rempang\",\"Sami\",\"Sapmi\"],\"articleSection\":[\"BATAM\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/\",\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/\",\"name\":\"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1) - Edisi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2026-10-25T08:10:55+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-25T08:10:56+00:00\",\"description\":\"Bias cahaya menyapu wajah orang-orang yang melingkari sumber api. Asap dari unggun itu mengepul, naik menuju kegelapan malam\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1614,\"caption\":\"Warga Pulau Rempang saat berziarah ke makam di leluhur mereka di Lubuk Lanjut yang masuk dalam Administrasi Kampung Pasir Panjang-Edisi\/BBI.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/edisi.co\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#website\",\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/\",\"name\":\"Edisi\",\"description\":\"Energi Informasi\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/edisi.co\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#organization\",\"name\":\"Edisi\",\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/cropped-LOGO-EDISI-1-1.png?fit=512%2C512&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/cropped-LOGO-EDISI-1-1.png?fit=512%2C512&ssl=1\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"Edisi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/Edisico-102666665780112\",\"https:\/\/x.com\/edisi_co\",\"https:\/\/www.instagram.com\/edisi.co\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/a6e4ffd158e82e95a42589b016a50281\",\"name\":\"edisinya admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f42250de46bee3dba7627695487e6ba2fb209a25e130e2ac34b914a20ac1691b?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f42250de46bee3dba7627695487e6ba2fb209a25e130e2ac34b914a20ac1691b?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"edisinya admin\"},\"url\":\"https:\/\/edisi.co\/author\/punyaedisi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1) - Edisi","description":"Bias cahaya menyapu wajah orang-orang yang melingkari sumber api. Asap dari unggun itu mengepul, naik menuju kegelapan malam","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1) - Edisi","og_description":"Bias cahaya menyapu wajah orang-orang yang melingkari sumber api. Asap dari unggun itu mengepul, naik menuju kegelapan malam","og_url":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/","og_site_name":"Edisi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Edisico-102666665780112","article_published_time":"2026-10-25T08:10:55+00:00","article_modified_time":"2026-10-25T08:10:56+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1614,"url":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"edisinya admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@edisi_co","twitter_site":"@edisi_co","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"edisinya admin","Estimasi waktu membaca":"14 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/"},"author":{"name":"edisinya admin","@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/a6e4ffd158e82e95a42589b016a50281"},"headline":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1)","datePublished":"2026-10-25T08:10:55+00:00","dateModified":"2026-10-25T08:10:56+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/"},"wordCount":2213,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg","keywords":["batam","Indonesia","MELAYU","Norwegia","rempang","Sami","Sapmi"],"articleSection":["BATAM"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/","url":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/","name":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1) - Edisi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg","datePublished":"2026-10-25T08:10:55+00:00","dateModified":"2026-10-25T08:10:56+00:00","description":"Bias cahaya menyapu wajah orang-orang yang melingkari sumber api. Asap dari unggun itu mengepul, naik menuju kegelapan malam","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#primaryimage","url":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/P1130583-scaled.jpg","width":2560,"height":1614,"caption":"Warga Pulau Rempang saat berziarah ke makam di leluhur mereka di Lubuk Lanjut yang masuk dalam Administrasi Kampung Pasir Panjang-Edisi\/BBI."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/edisi.co\/biarkan-sungai-alta-mengalir-tetaplah-ada-kampung-di-pulau-rempang-1\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/edisi.co\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Biarkan Sungai Alta Mengalir, Tetaplah Ada Kampung di Pulau Rempang (1)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/edisi.co\/#website","url":"https:\/\/edisi.co\/","name":"Edisi","description":"Energi Informasi","publisher":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/edisi.co\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/edisi.co\/#organization","name":"Edisi","url":"https:\/\/edisi.co\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/i0.wp.com\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/cropped-LOGO-EDISI-1-1.png?fit=512%2C512&ssl=1","contentUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/edisi.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/cropped-LOGO-EDISI-1-1.png?fit=512%2C512&ssl=1","width":512,"height":512,"caption":"Edisi"},"image":{"@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Edisico-102666665780112","https:\/\/x.com\/edisi_co","https:\/\/www.instagram.com\/edisi.co\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/a6e4ffd158e82e95a42589b016a50281","name":"edisinya admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/edisi.co\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f42250de46bee3dba7627695487e6ba2fb209a25e130e2ac34b914a20ac1691b?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f42250de46bee3dba7627695487e6ba2fb209a25e130e2ac34b914a20ac1691b?s=96&d=mm&r=g","caption":"edisinya admin"},"url":"https:\/\/edisi.co\/author\/punyaedisi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18752"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18752\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18777,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18752\/revisions\/18777"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17143"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edisi.co\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}